oleh

Stabilkan Harga, 62 Ribu Ton Bawang Putih Masuk ke Indonesia

JAKARTA – Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menstabilkan harga, sebanyak 62 ribu ton bawang putih segera masuk ke Indonesia. Hal itu setelah Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan Surat Perizinan Impor (SPI) komoditas pangan tersebut.

“Persyaratan yang dinyatakan sudah lengkah kurang lebih 62 ribu ton,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendag, Oke Nurwan, di Jakarta, kemarin (13/2).

Dia mengungkapkan, Kementerian Pertanian (Kementan) sebelumnya mengirimkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bawang putih sebanyak 103 ribu ton kepada Kemendag. Namun yang memenuhi persyaratan baru 62 ribu ton.

“103 ribu sudah terbit (RIPH dari Kementan), kan yang baru masuk, itu sudah kita proses, kalau lengkap. Jadi tergantung mereka,” katanya.

Dipastikan, bahwa bawang putih impor dari Cina aman dari virus corona. Adapun yang dilarang impor adalah binatang hidup, tidak termasuk produk ikan.

Impor bawang putih mendesak dilakukan, menurut dia, untuk untuk mengamankan kebutuhan di bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Untuk saat ini, Kemendag meminta importir yang masih memiliki stok untuk mendistribusikannya.

Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo) Valentino menilai impor bawang putih hanya bisa dilakukan dari Cina lantaran mengantongi persyaratan sertifikat Good Agricultural Practices (GAP) dari Kementan.

Valentino menjelaskan bahwa salah satu persyaratan untuk mendapatkan RIPH bawang putih adalah importir harus memastikan bahwa eksportir bawang putih telah memiliki sertifikat GAP berstandar internasional.

“Kita sudah puluhan tahun mungkin, bahwa Cina satu-satunya negara yang pelaku usaha eksportir bawang putihnya sudah sangat siap dengan sertifikasi GAP,” kata Valentino.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengungkapkan, impor ini dilakukan karena stok bawang putih di dalam negeri kian menipis, yakni 70 ribu ton. Stok tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sampai pertengahan Maret mendatang.

Prihasto memperkirakan impor bawang putih sebesar 103 ribu ton tersebut dapat memenuhi kebutuhan sampai 2-3 bulan ke depan. Adapun kebutuhan konsumsi bawang putih nasional mencapai 560 ribu sampai 580 ribu ton per tahun atau sekitar 47 ribu ton per bulan.

Seperti diketahui, produksi bawang putih dalam negeri baru mencapai 85 ribu ton per tahun atau sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional, sedangkan 90 persennya harus dipenuhi lewat impor.

Sebagian besar impor bawang putih tersebut didatangkan dari Cina, mengingat negara tersebut memiliki produksi terbesar di dunia untuk komoditas bawang putih. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indonesia mengimpor bawang putih dari Cina pada 2019 mencapai 465 ribu ton atau setara USD529,96 juta. (din/fin/ima)

Komentar

Berita Terbaru