Enam Video Pelajar Berjilbab Asyik Bermesraan Bikin Heboh Warga Tasikmalaya

TASIK - Beberapa video yang menampilkan aksi tak senonoh beredar kembali di Kabupaten Tasikmalaya baru-baru ini. Diketahui pasangan yang bermesraan pada video tersebut masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dari informasi yang dihimpun Radar, sedikitnya ada tiga video yang beredar. Masing-masing video berdurasi pendek, tidak sampai 1 menit.

Salah satu video hanya menampilkan seorang remaja perempuan berjilbab yang sedang dipangku teman prianya. Pemeran perempuan mengenakan pakaian olahraga sementara teman prianya berseragam pramuka.

Dalam video lain, pasangan yang sama dengan lokasi yang sama melakukan aksi yang lebih tidak senonoh. Keduanya terbaring di kursi sambil memperlihatkan adegan berciuman.

Adegan dalam video tersebut tampaknya direkam oleh teman dari sejoli mengingat posisi kamera tidak diam. Lokasinya tampak seperti ruang tamu sebuah rumah di mana terdapat kursi dan meja.

Tidak terdengar ada percakapan karena video tersebut berlatar musik ala tiktok. Namun dari informasi yang beredar, pasangan tersebut merupakan warga Kabupaten Tasikmalaya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Tasikmalaya Ato Rinanto membenarkannya. Informasi tersebut mulai ramai beredar awal pekan ini. “Selasa (23/11) sudah ramai menyebar, semuanya enam video,” ungkapnya kepada Radar Tasikmalaya (jaringan berita radartegal.com), akhir pekan lalu.

Hasil penelusuran KPAID, keenam video tersebut menampilkan hal tidak senonoh yang dilakukan oleh tiga pasangan berbeda. Mereka diketahui memang berasal dari salah satu Kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya.

“Masih satu kecamatan beda-beda desanya,” ucapnya.

Menindaklanjuti hal ini, KPAID langsung melakukan pendalaman dan berkomunikasi dengan pihak keluarga. Kondisi para remaja itu masih cukup syok setelah video mereka beredar.

“Kita sudah lakukan pendekatan ke keluarga dan akan melakukan pendampingan psikologis,” ujarnya.

KPAID juga sudah melakukan melakukan pertemuan terbatas bersama unsur Muspika. Ato berpendapat bahwa dalam hal ini anak harus tetap mendapat perlindungan.

“Kondisi anak tetap harus jadi prioritas,” ucapnya.

Sementara ini, belum diketahui apa yang menjadi motif perekaman serta penyebaran video tersebut. Kasus beredarnya video tak senonoh bukan pertama kalinya terjadi di Kabupaten Tasikmalaya sejak tahun 2021.

Kasus ini merupakan salah satu rentetan dari kasus video-video tak senonoh lainnya. Awal Maret 2021, video tak senonoh remaja Kabupaten Tasikmalaya beredar melalui aplikasi chatting.

Video tersebut memperlihatkan pasangan remaja sedang bergumul dengan bersandar ke dinding bangunan. Di video juga tampak ada seorang perempuan yang duduk di sepeda motor seperti menunggui dua sejoli itu.

Awal Mei 2021, muncul unggahan video dan foto perempuan yang memperlihatkan bagian tubuhnya. Cuplikan tersebut tersebut merupakan rekaman video call yang diduga mantan pasangan kekasih.

Masih di bulan yang sama, Mei 2021, bedanya video tersebut menampilkan perempuan tanpa busana. Dengan nada ringan perempuan tersebut menawarkan tarif Open BO Rp 200 ribu.

Aktivis Perempuan Ipa J Falihah mengaku prihatin dengan munculnya kembali video tak senonoh di Tasikmalaya. Mengingat kasusnya melibatkan anak di bawah umur, ini harus jadi perhatian bagi para orang tua.

“Pengawasan dari orang tua sangat penting untuk menjaga anak-anak kita, baik di dalam rumah maupun pergaulannya di luar rumah,” ucapnya.

Terlebih saat ini era gadget di mana anak di bawah umur bisa mengakses berbagai informasi dari internet. Tanpa pengawasan, pengaruh buruk internet akan merusak prilaku mereka.

“Karena mereka tentu melakukan adegan itu berdasarkan apa yang pernah mereka lihat atau informasi yang mereka dapat,” ucapnya.

Selain pengawasan pola asuh pun harus terus diperbaiki guna menjaga akhlak anak. Tentunya para orang tua harus lebih memahami ilmu parenting bagaimana menjaga anak dari berbagai pengaruh negatif lingkungan.

“Baik di lingkungan pergaulannya, maupun dunia maya,” ucapnya.

Orang tua juga harus bisa mengimbangi perkembangan zaman, salah satunya berkecimpung dan memahami konsep media sosial. Karena jika gagap teknologi, tentu pengawasan tidak akan maksimal.

“Jangan juga orang tua dan anak asyik dengan medsos masing-masing, kadang ada juga orang tua yang tidak berteman dengan anaknya di medsos,” pungkasnya. (rga/zul)

Baca Juga:

  • Arteria Dahlan Pernah Protes karena Tidak Dipanggil Yang Terhormat, Netizen: Saking Angkuhnya.
  • Arteria Dahlan Ternyata Lulusan Tanah Sunda, Prof Romli Atmasasmita: Rasa Malumu di Mana?.

Berita Terkait

Berita Terbaru