Gegara Covid-19, Utang Inggris Menjadi Rp39 Kuardriliun

LONDON - Pemerintah Inggris mencatat utang negaranya kini telah mencapai lebih dari dua triliun poundsterling atau setara Rp39 Kuardriliun (konversi rupiah setara Rp19.536). Ini terjadi setelah negara tersebut menggelontorkan dana besar-besaran untuk menangani pandemi Covid-19.

"Krisis ini telah membuat keuangan pemerintah berada di bawah tekanan yang signifikan, sebagaimana perekonomian terpukul. Kami harus mengambil tindakan untuk menopang jutaan pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian," kata Menteri Keuangan Rishi Sunak seperti dikutip AFP, Sabtu (22/8).

Badan Statistik Nasional (Office for National Statistic/ONS) menghitung, bahwa pada akhir Juli total akumulasi utang telah mencapai 2 triliun poundsterling, atau setara lebih dari 100 persen produk domestik bruto (PDB) tahunan negara itu.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah uang itu meningkat sekitar 227,6 miliar pounsterling. Menurut Rishi, tanpa dukungan pemerintah saat ini, keadaan ekonomi Inggris akan jauh lebih buruk.

ONS merinci, pinjaman bersih antara April hingga akhir Juli diperkirakan mencapai 150,5 miliar pounsterling, sedangkan, angka defisit bulan lalu telah mencapai 26,7 miliar pounsterling.

Meski demikian, penjualan ritel di Inggris telah melonjak 3,6 persen jika dibandingkan dari bulan Juni lalu. Hal itu lantaran Inggris telah membuka kembali sejumlah toko-toko, restoran, serta tempat hiburan di wilayah tersebut.

"Penjualan ritel sekarang telah menguat kembali setelah hilang selama puncak pembatasan akibat virus Corona. Banyak toko yang dibuka untuk perdangangan dan penjualan online tetap pada tingkat tertingginya sepanjang sejarah," kata Ahli Statistik ONS, Jonathan Athow pada Jumat (21/8) waktu setempat.

Athow menerangkan, meski belum pulih sepenuhnya jika dibandingkan dengan periode waktu sebelum pandemi, penjualan bahan bakar dan pakaian terus meningkat.

Jika dilihat secara makro, ekonomi Inggris telah menyusut sampai seperlima bagian pada kuartal kedua. Namun, ekonomi Inggris pun berangsur pulih. PDB mereka disebut tumbuh 8,7 persen di bulan Juni.

Pandemi global virus corona memicu "krisis ekonomi," menyebabkan PDB dunia turun 4,9 persen tahun ini dan akan mengakibatkan kerugian USD12 triliun dalam dua tahun ke depan, kata Dana Moneter Internasional (IMF).

Penutupan bisnis di seluruh dunia menyebabkan PHK ratusan juta orang, dan ekonomi utama di Eropa turun dua digit dalam krisis terburuk sejak Depresi Hebat hampir 100 tahun lalu.

"Prospek pemulihan pasca-pandemi sarat ketidakpastian karena penularan virus yang tidak terduga, kata IMF dalam laporan World Economic Outlook yang diperbarui.

IMF memperingatkan, "Pandemi Covid-19 lebih berdampak negatif terhadap aktivitas dalam paruh pertama tahun 2020, dan pemulihan diproyeksikan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya."

Pandemi Covid-19 memicu pengangguran besar-besaran. Bank Dunia memperkirakan ekonomi global menyusut sampai 5,2 persen tahun ini. (der/zul/fin)

Baca Juga:

  • Dinobatkan sebagai Rest Area Terindah di Indonesia, Ganjar Terpukau saat Mampir Makan Siang di Rest Area 456.
  • Jadi Rebutan AS dan China, Indonesia Harus siap-siap Hadapi Perang Dunia III.

Berita Terkait

Berita Terbaru