Harga Crude Palm Oil (CPO) Naik USD662 per Metrik Ton

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, harga Crude Palm Oil (CPO) pada Juli 2020 mengalami kenaikan USD662 per metrik ton dibandingkan bulan sebelumnya yakni USD569.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag, Kasan mengatakan, bahwa terjadinya kenaikan harga CPO pada bulan Juli 2020 dikarenakan permintaan produk sawit dunia mulai naik.

"Negara tujuan ekspor yaitu Tiongkok sudah mulai ke arah pemulihan dari dampak Covid-19. Indikasinya adalah harga Bulan Juli untuk referensi pungutan sawit dibandingkan Juni itu perlahan naik," kata Kasan di Jakarta, Sabtu (11/7).

Kasan memperkirakan, bahwa permintaan juga akan naik seiring dengan memulihnya beberapa negara tujuan ekspor sawit RI yakni India, Pakistan, dan Bangladesh, dari dampak Covid-19.

"Negara-negara yang menyerap sawit asal RI paling besar yaitu India, Tiongkok, Pakistan, Bangladesh, Uni Eropa, dan Amerika Serikat," sebutnya.

Menurut Kasan, dengan mulai pulihnya ekonomi negara-negara tujuan ekspor tersebut, otomatis berdampak kepada kebutuhan akan minyak nabati oleh masyrakat yang mulai beraktifitas, salah satunya minyak kelapa sawit akan kembali naik.

"Jika kebutuhan minyak nabati di beberapa negara tujuan meningkat, maka ekspor produk sawit RI juga akan meningkatm," ujarnya.

Kasan mengungkapkan, bahwa sejauh ini Indonesia masih mempertahankan pasar-pasar tradisional tujuan ekspor sawit ke beberapa negara langganan. Namun, tetap mencari peluang ekspor di pasar-pasar baru.

"Kemendag akan berupaya mencari peluang pasar ekspor untuk produk unggulan asal RI ini ke negara-negara lain, di antaranya Timur Tengah dan Afrika, yang dinilai memiliki potensi pasar ekspor besar," tuturnya.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan mengatakan dalam risetnya bahwa komoditas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) akan sangat menarik pada pekan ini didukung rilis data dan sentimen yang hadir di pasar saat ini sehingga mendorong harga untuk bergerak naik.

"Dengan demikian, kami berpikir bahwa saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP), dan saham komoditas CPO lainnya akan bersinar pada pekan ini dibandingkan dengan saham-saham komoditas lainnya," kata Andy

Andy menjelaskan, bahwa harga CPO pekan ini akan didukung oleh data produksi Malaysia untuk periode Juni yang diproyeksi dirilis lebih rendah dari bulan sebelumnya.

"Produksi yang lebih rendah dari Malaysia akan membantu mengurangi kelebihan pasokan, mengingat permintaan juga tengah melemah akibat Covid-19. Apalagi, mempertimbangkan Malaysia adalah produsen CPO terbesar kedua di dunia," terangnya.

Dari catatan sebelumnya, produksi CPO Malaysia untuk periode Mei 2020 berada di posisi 1,7 juta ton, cenderung stabil pertumbuhannya dibandingkan dengan periode April 2020.

"Oleh karena itu, secara keseluruhan dengan sentimen itu yang merupakan katalis positif, harga CPO global akan menguat dengan baik pada pekan ini," pungkasnya. (der/ant/fin/zul)

Baca Juga:

  • Terus Merebak, Pasien Terkonfirmasi Covid-19 di Brebes Capai 64 Kasus.
  • Valid! 26 Kasus Positif Covid-19 Baru Ditemukan di Kota Tegal, Ganjar Minta Pemkot Intensifkan PCR Test Massal.

Berita Terbaru