oleh

Ganjar Minta Waspadai dan Lebih Peka dengan Janji Investasi

SEMARANG – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengingatkan masyarakat mewaspadai investasi yang menjanjikan keuntungan besar. Apalagi, bisnis investasi ilegal atau bodong dengan modus-modus baru saat ini kian marak.

Menurut Ganjar, investasi bodong biasanya tidak perlu bekerja keras, tidak melakukan apa-apa, tetapi mendapatkan penghasilan yang besar, dan tidak masuk akal. Padahal, nantinya justru akan merugikan dirinya sendiri.

Seperti fenomena Kerajaan Agung Sejagat di Desa Pogung Kecamatan Jurutengah Kabupaten Purworejo beberapa waktu lalu. Organisasi itu menghimpun dana masyarakat, kemudian menjanjikan keuntungan besar, yang ternyata berujung penipuan.

“Hari ini, jangan percaya kepada janji-janji keuntungan bisnis yang tidak masuk akal. Ilmu pengetahuan sudah berkembang, kita bisa mengecek lembaga keuangan mana yang kredibel. Jadilah lebih peka agar tidak menjadi pekok,” pesan Ganjar usai Penyerahan Izin Prinsip PT BPR BKK Jateng (Perseroda) di PO Hotel, Selasa (11/2).

Diakui Ganjar, masih ada investasi yang masuk di kalangan masyarakat dengan pola yang aneh dan tujuannya merangsang masyarakat untuk tertarik. Karenanya, jika literasi baik maka masyarakat akan lebih berhati-hati dengan keuntungan tinggi.

“Dalam hal ini masyarakat harus memahami ‘high risk high return’. Cirinya bunga tinggi, kembali cepat, dan untung berlipat-lipat,” tandasnya.

Kasus terakhir adalah aplikasiĀ investasi bodongĀ bernama MeMiles yang berhasil dibongkar kepolisian 3 Januari lalu. Investasi bodong dengan menggunakan nama PT Kam and Kam itu berhasil meraup uang dari korban senilai Rp750 miliar. Saat penangkapan, polisi mengamankan uang nasabah hingga Rp122 miliar.

MeMiles merupakan platform digital advertising dengan memadukan tiga jenis bisnis yakni advertising, market place dan traveling. MeMiles memberikan iming-iming yang diluar logika.

Misalkan dengan top up Rp300.000 bisa dapat bonus HP, top up Rp3 juta dapat sepeda motor dan top up Rp7 juta dapat Mobil Fortuner. “Kalau curiga, bisa lapor ke OJK. Anda akan mendapatkan informasi lengkap. Bodong atau tidak,” pungkas Ganjar. (*/zul)

Komentar

Berita Terbaru