Indonesia Butuh Investasi Rp5.800 Triliun Jika Ingin Wujudkan Ekonomi 5 Persen

JAKARTA - Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5 persen, Indonesia setidaknya butuh investasi sekitar Rp5.817,3 hingga Rp5.912,1 triliun.

"Jadi untuk memenuhi pencapaian ekonomi 2021, yang utama ialah berdasarkan investasi baik berdasarkan pemerintah, BUMN, dan swasta,'' ujar Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Yuliot dalam video daring, kemarin (8/1).

Yuliot menjelaskan, kontribusi pemerintah atas kebutuhan tersebut berada di kisaran 5 - 7,1 persen, lalu kontribusi BUMN sebesar 4,9 - 8,1 persen dan kontribusi swasta sebesar 84,7 - 90,1 persen.

"Investasi ini sebagai target makro yang menjadi pilar bagi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Lanjut dia, berdasarkan data UNCTAD tahun 2019 terjadi penurunan aliran investasi global sebanyak USD1,5 triliun dibandingkan aliran investasi pada 2015 yang mencapai USD2 triliun.

Ia menyebut, pada tahun 2020 aliran investasi global turun menjadi 1,1 triliun USD dan tahun 2021 diperkirakan turun 1 triliun USD. Oleh karena itu, pihaknya akan meningkatkan investasi sehingga investasi bisa lancar dan tidak menghambat penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah dalam negeri.

Sementara itu, Ekonom Senior INDEF Didik Junaidi Rachbini menilai target pemerintah pertumbuhan ekonomi 5 persen pada 2021 terlalu optimis.

“Perkiraan pertumbuhan ini tidak berdasar pada fakta yang sebenarnya dari perkembangan Covid-19 yang buruk dan kapasitas kebijakan pemerintah yang rendah,” katanya.

INDEF, kata dia. memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 hanya sebesar 3 persen. Ini bisa berubah kecuali ada perubahan kebijakan yang pebih baik dalam mengatasi pandemi.

Kenapa 3 persen, salah satunya dari sisi masyarakat, yakni belanja domestik kelas menengah sebagai motor penggerak ekonomi belum maksimal karena kasus harian Covid-19 belum mereda, bahkan memburuk.

Sedangkan dari sisi pemerintah, program pemulihan ekonomi nasional (PEN) menyerap anggaran yang besar tetapi efektivitas dan penyerapannya tidak maksimal. Bahkan terjebak dalam kasus korupsi yang buruk.

Selanjutnya dari sisi lain belanja kesehatan dan belanja sosial justru diturunkan tahun 2021. Ini membuat permintaan domestik terkendala oleh efektivitas program kesehatan dan belanja pemerintah di sektor tersebut.

Sebelumnya, International Monetary Fund (IMF) memprediksi kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali pulih di tahun ini dan 2022. Lembaga ini meramal Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia mencapai 4,8 persen pada 2021 dan 6 persen di 2022. (din/zul)

Baca Juga:

  • Sesuai UU Penerbangan, Ahli Waris Korban Meninggal Sriwijaya Air Terima Rp1,25 Miliar Per Penumpang.
  • Marah ke Ribka Tjiptaning, Pendukung Jokowi: Anda Tahu Sopan Santun Tidak.

Berita Terkait

Berita Terbaru