Izin Vaksin Janssen dan Convidecia Keluar, Dosisnya Tunggal Cukup Sekali Suntikan

JAKARTA - Izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) untuk dua vaksin Covid-19, yakni Janssen dan Convidecia di Indonesia telah terbit. Kedua vaksin itu diberikan hanya satu kali suntikan

"Penambahan kedua jenis vaksin COVID-19 ini diharapkan dapat membantu upaya mengejar peningkatan cakupan vaksinasi di Tanah Air," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Penny K Lukito di Jakarta, Rabu (8/9).

Dia menyebut indikasi penggunaan Janssen COVID-19 Vaccine dan vaksin Convidecia adalah untuk pencegahan COVID-19. Vaksin dapat diberikan kepada orang berusia 18 tahun ke atas.

Menurutnya, vaksin tersebut diberikan sekali suntikan atau dosis tunggal sebanyak 0,5 ml secara intramuscular. "Kedua vaksin ini juga sama-sama memerlukan kondisi penyimpanan pada suhu khusus. Yakni 2-8 derajat Celsius."

"Khusus Janssen COVID-19 Vaccine dapat juga disimpan pada suhu minus 20 derajat Celsius," imbuhnya.

Ia mengatakan Janssen COVID-19 Vaccine adalah vaksin yang dikembangkan oleh Janssen Pharmaceutical Companies dengan platform non-replicating viral vector menggunakan vector Adenovirus (Ad26).

Vaksin tersebut diproduksi di beberapa fasilitas produksi. Antara lain di Grand River USA, Aspen South Africa, dan Catalent Indiana, USA.

Sementara di Indonesia, vaksin ini didaftarkan oleh PT Integrated Health Indonesia (IHI) sebagai pemegang EUA. PT tersebut bertanggung jawab untuk penjaminan keamanan, khasiat, dan mutu vaksin.

Untuk vaksin Convidecia, lanjut Penny, merupakan vaksin yang dikembangkan oleh CanSino Biological Inc dan Beijing Institute of Biotechnology menggunakan vector Adenovirus (Ad5).

Vaksin Convidencia didaftarkan oleh PT Bio Farma sebagai pemegang izin EUA. Sebagaimana proses penerbitan EUA pada vaksin COVID-19 sebelumnya, kedua jenis vaksin terbaru di Indonesia itu juga telah melalui pengajian yang intensif terhadap keamanan, khasiat, dan juga mutu.

“Badan POM selalu berkolaborasi bersama pakar dalam memastikan pemenuhan standar keamanan, khasiat, dan mutu vaksin. Kami melibatkan para pakar di bidang farmakologi, imunologi, klinisi, apoteker, epidemiologi, virologi, dan biomedik yang tergabung dalam tim Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin COVID-19, Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), serta asosiasi klinisi terkait,” papar Penny.

Berdasarkan hasil kajian sisi keamanan, secara umum pemberian kedua vaksin tersebut dapat ditoleransi dengan baik. Untuk Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) dari pemberian Vaksin Convidecia, menunjukkan reaksi ringan.

Seperti rasa nyeri, kemerahan, dan pembengkakan. Sementara KIPI sistemik yang umum terjadi adalah sakit kepala, rasa lelah (fatique), nyeri otot (myalgia), mengantuk, mual (nausea), muntah, demam (pyrexia), dan diare.

Efikasi Janssen COVID-19 Vaccine untuk mencegah semua gejala COVID-19 adalah sebesar 67,2 persen. Kemudian efikasi untuk mencegah gejala COVID-19 sedang hingga berat pada subjek di atas 18 tahun adalah 66,1 persen.

Sementara untuk vaksin Convidecia, efikasi vaksin untuk perlindungan pada semua gejala COVID-19 adalah sebesar 65,3 persen. Lalu untuk perlindungan terhadap kasus COVID-19 berat 90,1 persen.

Hingga saat ini, BPOM telah menerbitkan EUA terhadap tujuh produk vaksin COVID-19. Yaitu CoronaVac (Sinovac), COVID-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Comirnaty (Pfizer and BioNTech), dan Vaksin Sputnik-V.(rh/zul)

Baca Juga:

  • Setelah Mati Tertembak, Empat Tubuh Pencuri Digantung di Alun-alun oleh Taliban.
  • TNI Dituding Disusupi Komunis oleh Gatot Nurmantyo, Panglima TNI: Saya Tidak Mau Berpolemik.

Berita Terkait

Berita Terbaru