Jadi Polemik, Ustaz Ahong Bilang ACT Sudah Lama Terindikasi Danai Aksi Terorisme di Suriah

JAKARTA - Tengah menjadi polemik, organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) disebut sudah lama terindikasi danai aksi terorisme di Suriah. Tudingan ini muncul usai diduga selewengkan dana umat.

Ustaz Ibnu Kharis atau biasa disapa Ustaz Ahong menyampaikan pendapatnya pada sebuah kicauan lewat akun media sosial Twitter bernama @Ustadz_Ahong.

Ustaz Ahong bilang bahwa Aksi Cepat Tanggap terindikasi telah memberikan dana pada kejahatan terorisme di Suriah.

"ACT sudah lama terindikasi mendanai aksi terorisme di Suriah. Tapi gak langsung ditutup," terang Ustaz Ahong.

"Sekarang umat sendiri yang membongkarnya," ujarnya, Senin (4/7).

Pengelola situs Bincang Syariah itu terpantau memang aktif dalam memakai platform tersebut untuk menyuarakan sudut pandang pribadinya.

Ustaz Ahong turut menjelaskan bahwa pada tahun lalu ada sebuah yayasan bernama Syam Organizer di Indonesia ditutup karena danai aksi terorisme.

"Tahun lalu Syam Organizer di Indonesia terbongkar mendanai aksi terorisme di Suriah. Langsung ditutup," tulis Ustaz Ahong.

Cuitan Ustaz Ahong mendapat dua komentar, 26 retweets, dan 59 likes dari netizen hingga berita ini tayang.

Sebelumnya, yayasan Aksi Cepat Tanggap akhirnya turut angkat bicara mengenai trending topik di media sosial.

Sebagaimana diketahui, ACT menjadi perhatian masyarakat di media sosial dengan tagar Jangan Percaya ACT setelah sebuah majalah merilis majalah dengan headline bertajuk "Kantong Bocor Dana Umat".

Perilisan tersebut perihal dugaan penyelewengan dana sumbangan yang terkumpul melalui ACT hingga fasilitas mewah dan gaji fantastis yang diterima para petinggi.

Sampai saat ini pun ACT masih menjadi trending topik di Twitter dengan tagar Aksi Cepat Tanggap dengan tweet 12,3 rb sejak berita ini diterbitkan.

Presiden ACT Ibnu Khajar pun mengadakan konferensi pers yang di gelar di Kantor ACT, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (4/7).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden ACT Ibnu Khajar meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat usai hebohnya kabar tersebut.

"Permohonan maaf yang luar biasa sebesar-sebesarnya kepada masyarakat mungkin masyarakat kurang nyaman terhadap pemberitaan," ucap Ibnu Khajar.

Ibnu menjelaskan, ACT merupakan lembaga kemanusiaan yang terdaftar di kementerian sosial, bukan lembaga ambil zakat.

"ACT adalah NGO yang sudah berkiprah di 47 lebih negara supaya menjadi kebanggaan bangsa ini," jelas Ibnu Khajar.

"ACT menjadi penyalur bantuan kebaikan dermawan, ini perlu kami sampaikan di awal," ujarnya.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Fraksi Golkar TB Ace Hasan Syadzily ikut angkat bicara soal polemik Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menghebohkan.

Kepada wartawan, Selasa (5/7), Ace menyebut jika transparansi dan akuntabilitas harus selalu dikedepankan oleh lembaga-lembaga filantropi seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Sebab mereka mengelola donasi dari masyarakat yang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.

“Harus disampaikan kepada masyarakat secara periodik laporan penggunaan keuangannya, termasuk biaya operasional manajemennya,” ujarnya.

Ace sudah mengecek ke Baznas mengenai status ACT. Ternyata ACT tidak masuk sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ).

Sehingga, harusnya ACT tidak boleh mengumpulkan zakat, infak, dan sodakoh (ZIS) dari masyarakat.

“Kalau mereka mengumpulkan dana dari masyarakat atas nama ZIS tentu harus melaporkan ke Baznas,” cetusnya.

“ACT ini harus melakukan audit yang dilakukan secara independen dan dilaporkan kepada publik,” demikian kata Ace.

Ketua Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (IKAL UIN) ini juga berharap lembaga-lembaga kemanusiaan tidak menjual isu konflik Palestina-Israel, bencana alam dan lain-lain, sebagai komoditas demi meraup kepentingan pribadi.

“Kasus ACT harus dibongkar ke masyarakat. Agar masyarakat dan para donaturnya mengetahui dana-dana tersebut dipergunakan untuk apa saja,” tegas Ace.

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat ini menambahkan, saat ini memang belum ada regulasi khusus yang mengatur soal penarikan dana dari masyarakat, kecuali zakat, infak, dan shodaqoh. Namun begitu, skandal ACT ini harus diungkap ke publik, seperti dikutip dari RMOL.id. (ima/rtc)

Baca Juga:

  • Semua Polisi yang Halangi Penyidikan Tewasnya Brigadir J Bisa Dipidana, Kompolnas: Mohon Sabar.
  • Sadis! Senjata Brigadir J Disebut Dipakai Pelaku Lain untuk Buat Alibi Baku Tembak.

Berita Terkait

Berita Terbaru