Kasus Covid-19 Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara, Nomor 18 di Dunia

JAKARTA - Jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia kembali menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara, setelah sebelumnya ditempati Filipina. Secara global, peringkat Indonesia juga terus naik dan berada pada peringkat ke-18.

Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19, Jumat (16/10/2020), kasus positif Corona hari ini bertambah 4.301. Dengan demikian, total kasus Corona di Indonesia tercatat sebanyak 353.461 kasus. Sedangkan yang meninggal dunia 12.347 orang dan yang sembuh mencapai 277.544.

Sementara data Worldometers dan WHO per 16 Oktober 2020, total kasus Covid-19 di Filipina saat ini mencapai 348.698 kasus dengan jumlah kematian mencapai 6.497 jiwa dan pasien sembuh sebanyak 294.161 orang. Posisi Filipina secara global berada di bawah Indonesia, yakni peringkat ke-19.

Untuk jumlah testing, Filipina telah melakukan pengujian sebanyak 4.267.571 sementara Indonesia ratusan ribu di bawahnya yakni 3.935.112 testing.

Jumlah kematian yang dilaporkan akibat virus corona Filipina juga lebih sedikit dari Indonesia. Filipina mencatat 6,497 jumlah kematian sedangkan Indonesia 12.268.

Menurut perhitungan Wall Street Journal, Indonesia negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia baru menguji sebagian kecil penduduknya. Rinciannya hanya delapan tes yang dilakukan per 1.000 penduduk.

Sedangkan Filipina, melakukan 34 testing per 1.000 penduduk. Perbandingan lainnya, Indonesia bahkan kalah dengan Meksiko yang merupakan negara dengan jumlah testing corona terendah sedunia.

Meksiko telah menguji 13 dari 1.000 orang atau sekitar 60% lebih tinggi dari Indonesia. India, yang melaporkan jumlah sampel yang diuji daripada orang yang diuji, telah melakukan 60 tes per 1.000 orang.

Data di India itu menurut perhitungan Wall Streat lebih dari empat kali lipat jumlah sampel per 1.000 orang yang telah ditesting corona di Indonesia.

Setiap negara memang memiliki metodologi berbeda untuk menghitung total pengujian nasional, sehingga angka dari negara ke negara mungkin tidak dapat dibandingkan secara langsung. Meskipun demikian, hal tersebut dapat memberikan indikasi umum sejauh mana pemerintah tiap negara melacak pandemi. (der/zul/fin)

Baca Juga:

  • Kerap Lontarkan Narasi Tendensius, Sekjen PBNU: Gus Nur Gak Kapok Hina NU.
  • Tak Diajak Bahas UU Ciptaker, Presiden Jokowi Singkirkan NU? Said Aqil Bilang Begini.

Berita Terkait

Berita Terbaru