Kemenkeu Sebut Indonesia Sudah Resesi Sejak Kuartal I/2020, kok Baru Diakui Sekarang?

JAKARTA - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyebutkan sebetulnya Indonesia sudah resesi sejak kuartal I/2020. Ini ditandai realisasi ekonomi yang sudah turun.

Febrio menjelaskan, secara teknis resesi adalah kondisi di mana ekonomi minus dua kuartal berturut-turut. Sebab rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 10 tahun terakhir berada di posisi 5 persen. Diketahui, terakhir kali pertumbuhan ekonomi minus terjadai pada krisis ekonomi 1997-1998.

"Pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen itu menjadi pertanyaan besar, itu perlambatan ekonomi, apakah itu terjadi berkepanjangan nah itu resesi," ujarnya dalam video daring, kemarin (25/9).

Dia menyebutkan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 di kisaran minus 2,9 persen sampai minus 1 persen. Sementara di sepanjang tahun ini di kisaran minus 1 persen sampai minus 0,6 persen.

Meski Indonesia sudah resesi, namun dia melihat saat ini ekonomi Indonesia sudah berangsur membaik dibandingkan dengan negara-negara di dunia yang terkontraksi lebih dalam.

Pada kuartal II/2020 ekonomi nasional minus 5,32 persen. Sementara di kuartal II, misalkan minus 2,9 persen. Artinya, sudah ada perbaikan dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Kalau resesinya kita sudah resesi sepanjang tahun ini, katakanlah kuartal III minus 2,9 persen sampai minus 1 persen tapi sudah terjadi perbaikan. Tapi kalau seluruh 2020 ada di territory negatif," ucapnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksi ekonomi kuartal III/2020 minus 3 persen-minus 1 persen. Sedikit pesimistis dibandingkan proyeksi Kemenkeu.

"Pandemi covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi terkontraksi, pada kuartal II/2020 terkontraksi 5,32 persen dan kuartal III/2020 satu pekan diperkirakan minus 3 persen-minus 1 persen," ujar Airlangga.

Adapun kata dia, hantaman pandemi Covid-19 yang paling terpukul adalah dari sektor pariwisata. Diikuti akomodasi, perhubungan, dan ritel. Dia mencontohkan, Bali dan Kepulauan Riau menjadi wilayah pariwisata yang paling terpukul.

"Tentunya ini memukul sektor yang memberikan pendapatan kepada pemerintah sekitar USD15 miliar, ini penghasil devisa," ujarnya.

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebutkan jika bertambahnya kemiskinan menjadi kemungkinan terburuk bila resesi melanda Indonesia.

Untuk itu, dia berharap pemerintah agar menambah Bantuan Langsung Tunai (BLT), untuk pengangguran, korban PHK, dan pekerja informal. Pasalnya, jika angka pengangguran tidak bisa tertolong dengan BLT, maka angka kemiskian akan naik dan anaman sosial makin tinggi.

“Jadi, nominal BLT pun harus lebih besar dari sebelumnya, idealnya Rp1,2 juta per orang per bulan selama 3-6 bulan. Bantuan berupa sembako juga bisa difokuskan ke daerah daerah yang padat penduduk seperti Jabodetabek,” ujarnya.

Menurut dia, akar dari resesi karena pemerintah harus fokus penanganan Covid-19. Sehingga nantinya aktivitas ekonomi akan bergerak dan membaik.

“Ini kan akar masalahnya karena aktivitas ekonomi macet saat pandemi, maka solusinya adalah tangani masalah kesehatan dengan lebih serius. Semakin cepat pandemi tertangani semakin cepat recovery,” pungkasnya. (din/zul/fin)

Baca Juga:

  • Dinobatkan sebagai Rest Area Terindah di Indonesia, Ganjar Terpukau saat Mampir Makan Siang di Rest Area 456.
  • Jadi Rebutan AS dan China, Indonesia Harus siap-siap Hadapi Perang Dunia III.

Berita Terkait

Berita Terbaru