Klenteng Hok le Kiong, Menjaga Kebersamaan Antarumat Beragama

SLAWI - Ada yang berbeda dalam lima tahun terakhir di Klenteng Hok le Kiong Slawi. Di bawah kepemimpinan Tan Po Khong atau yang akrab disapa Apau, mampu merangkul masyarakat dari berbagai agama dengan mengadakan kegiatan bersama.

Apau yang merupakan ketua Yayasan Adi Dharma, sekaligus ketua pengurus Klenteng Hok le Kiong mengatakan, bahwa dalam ajaran agama apapun, pasti diajarkan untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi.

Baginya, Klenteng Hok Ie Kiong yang sudah ada sejak 1915 silam, selain sebagai tempat spiritual, juga sebagai pusat peninggalan budaya Tionghoa yang harus dilestarikan.

Ada yang menarik saat memasuki salah satu ruangan di klenteng tersebut. Terdapat lukisan dinding Gus Dur atau Abdurrahman Wahid. Menurut Apau, selain sebagai idola, Presiden Indonesia ke-4 ini telah banyak berjasa bagi masyarakat Tionghoa.

Berkat jasa Gus Dur lah agama Khong Hu Cu sejajar dengan agama lain di Indonesia. Bahkan Gus Dur pun yang mencetuskan Perayaan Imlek sebagai hari libur nasional.

"Dalam visi misi Yayasan Adi Dharma adalah menyatukan berbagai umat dalam menjunjung tinggi toleransi. Keberagaman bukanlah penghalang untuk bisa bekerjasama. Karena itu, kami mengadakan kegiatan dengan mengundang para tokoh lintas agama,” katanya.

Saat perayaan ke-100 tahun Klenteng Hok Ie Kiong pada tahun 2015 lalu, tambah Apau, pihak klenteng merayakan dengan hal yang berbeda. Yaitu, merayakan dengan mengundang ulama terkenal Muhammad Luthfi bin Yahya serta tokoh ulama Tegal KH Khambali Usman. Perayaan itu dihadiri oleh banyak tokoh dan lintas agama.

”Mulai dari situ saya memulai membuka diri. Artinya klenteng ini boleh didatangi oleh siapapun tidak hanya untuk masyarakat Tionghoa,” tambahnya.

Dari perayaan 100 tahun tersebut, lanjut Apau, Klenteng Hok Ie Kiong Slawi membentuk Forum Silaturahmi Nusantara (FSN) Kabupaten Tegal. Di mana kantor sekretariat FSN juga berada di area klenteng tersebut.

Dengan adanya FSN, Apau berharap timbulnya kebersamaan, persatuan agar Indonesia, khususnya Kabupaten Tegal tidak mudah dipecah belah hingga diadu domba.

"Intinya tidak ingin dipecahbelah, toleransi ini harus selalu didengungkan," tambahnya.

Tidak hanya selesai di situ, pada tahun berikutnya, Klenteng Slawi juga kehadiran putri Gus Dur, yakni Innayah Wahid.

Bekerjasama dengan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tegal, kehadiran Innayah itu dimanfaatkan untuk berdiskusi di area klenteng.

Ada pula ceramah kebangsaan yang disampaikan oleh Gus Nuril dengan dihadiri organisasi kepemudaan Islam.

Pada 2019 silam, saat acara halalbilhalal, FSN yang dibentuk pihak klenteng juga menghadirkan Gus Faris Abbas dari Pondok Pesabntren Buntet Cirebon. Tidak kalah penting, Klenteng Hok Ie Kiong Slawi juga pernah mengadakan kirab akbar dengan dihadiri 35 klenteng dari luar kota.

Kepanitiaannya melibatkan anak anak PMII, IPPNU, komunitas santri, komunitas jurnalis IBN, PHDI, penghayat Manages, dan sebagainya.

Terakhir, pada Juli 2020, klenteng mengadakan ceramah kebangsaan yang disampaikan Wantimpres Habib Lutfi dengan dihadiri perwakilan dari organsiasi kemahasiswaan keislaman, manages, PHDI, GKJ, Budha, dan Katolik.

Terpisah, Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa L. Harnoko yang juga salah satu tokoh Tionghoa mengapresiasi yang dilakukan Apau. Menurut dia, klenteng selain menjadi tempat spiritual, juga peninggalan kebudayaan yang harus dijaga.

Kegiatan yang dilakukan dengan menggandeng seluruh umat dari latar belakang berbeda agama itu harus dilestarikan. Dengan begitu, klenteng menjadi tidak asing bagi warga Kabupaten Tegal khususnya. (ADV/guh/ima)

Baca Juga:

  • Pandemi Belum Berkurang, Muncul Serangan Virus Baru Nipah yang Lebih Ganas dari Covid-19.
  • Kasus Positif Covid-19 Sudah Tembus 1 Juta Lebih, Pemerintah Siapkan Lockdown Terbatas.

Berita Terbaru