Korupsi dalam Pandangan Psikologi Kognitif

Oleh: Rahmad Agung Nugraha

Doktor Psikologi Pendidikan, Dosen Pascasarjana Universitas Pancasakti Tegal

Kebanyakan perilaku korupsi sering kali berdasarkan asumsi mengenai motivasi. Asumsi motivasi ini banyak yang mempertanyakan mengenai validitasnya.

Dalam tulisan ini, saya mengeksplorasi kekuatan paradigma teoretis dalam menjelaskan perilaku korupsi dari pandangan psikologi kognitif. Dalam literatur psikologi kognitif mengenai korupsi, kebanyakkan literartur menyatakan bahwa perilaku korupsi selalu berkaitan dengan kekuasaan, keuntungan pribadi dan kontrol diri, keuntungan (individu merasa tidak mau kehilangan dan penerimaan sebuah resiko), rasionalisasi, dan emosi.

Psikologi kognitif menurut Gerrig dan Zimbardo (2002) memberikan definisi sebagai studi tentang tingkatan proses mental individu seperti pemrosesan informasi, perhatian, penggunaan bahasa, memori, persepsi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan pemikiran.

Dilihat dari judul tulisan saya ini, saya memberikan asumsi inti dalam menganalisis perilaku korup melalui pandangan psikologi kognitif. Asumsi inti dalam menganalisis perilaku korup dalam pandangan psikologi kognitif adalah keputusan individu secara sadar untuk terlibat dalam perilaku korup. Keputusan ini kemungkinan besar melibatkan beberapa proses paralel psikologis yaitu:

Yang pertama adalah pemprosesan informasi. Keputusan melibatkan pilihan antara dua atau lebih alternatif yang melibatkan pilihan tentang pertanyaan seperti apakah, siapa, kapan, yang mana dan lain sebagainya.

Setiap alternatif dikaitkan dengan seperangkat keyakinan tentang hasil yang terkait dengan setiap alternatif. Setiap hasil dikaitkan dengan nilai atau preferensi, meskipun keyakinan dan nilai ini mungkin istimewa bagi setiap pembuat keputusan.

Membuat pilihan menyiratkan sebuah komitmen terhadap alternatif yang dipilih dan melibatkan pencarian alasan atau rasionalisasi untuk membenarkan pilihan.

Tugas memilih antara alternatif dan berperilaku melibatkan tingkat pemrosesan informasi sehingga memerlukan berbagai bentuk kegiatan akuisisi pengetahuan yang didorong oleh data dan konsep (atau hipotesis) yang berkisar sepanjang kontinum dari pengetahuan langsung (berbasis persepsi) hingga mengetahui tidak langsung (berbasis kognisi) yang melibatkan tugas inferensi yang lebih kompleks.

Yang kedua adalah skemata. Skemata merupakan konsep dalam psikologi kognitif yang membantu untuk memahami proses mental secara internal (yaitu pengkodean dan penyimpanan informasi) yang terletak di antara rangsangan (input) dan respons individu dalam menghadapi setiap situasi yang diberikan.

Skemata didefinisikan sebagai struktur kognitif dari pengetahuan sebelumnya yang terorganisir, diabstraksikan dari pengalaman yang memandu pemrosesan informasi baru dan pengambilan informasi yang disimpan.

Skemata meliputi naskah, contoh, dan analogi yang merupakan kerangka kerja terstruktur yang membantu seseorang untuk menyimpan, menyederhanakan, dan menghubungkan informasi yang terhubung ke proses kognitif seperti memori, pemrosesan informasi.

Penelitian psikologi kognitif tentang skemata menginformasikan tentang bagaimana pengetahuan yang memengaruhi pemahaman mengenai pengetahuan baru, mengategorikan, memilih, mengkode, menyimpulkan, menyimpan dan pemanggilan kembali. Intinya skemata berperan sebagai evaluasi diri dalam memberikan dasar pengalaman sebelumnya.

Yang ketiga adalah emosi dan motivasi, konstruksi motivasi berguna untuk memahami inisiasi dan penentuan pemrosesan informasi. Emosi dipandang sebagai unsur vital dalam kognisi fungsional. Kemampuan verbal dan kecerdasan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan rasional seseorang.

Yang keempat adalah kognisi dan perilaku, penelitian mengenai kognisi tidak dapat dipisahkan dengan pengamatan perilaku atau tindakan yang dilakukan individu.

Pikiran dipandang sebagai bagian struktur batin yang mengatur informasi dari lingkungan, menghubungkan informasi dengan pengetahuan yang tersimpan sebelumnya, dan proses informasi dan pengetahuan untuk membentuk keputusan dalam bertindak.

Dalam kebanyakan kasus, kondisi dan lingkungan sosial tertentu mendorong atau mempengaruhi pemrosesan informasi. Proses adaptif muncul dari interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya. Lingkungan merupakan pemasok input sekaligus penerima input dan merupakan sebuah unit interaktif, responsif terhadap tindakan manusia, sebuah proses sebab-akibat timbal balik yang berkelanjutan.

Kondisi dan lingkungan sosial seseorang mendorong atau mempengaruhi pemrosesan informasi seperti individu yang memegang kekuasaan lebih cenderung bertindak korup, Individu lebih cenderung bertindak korup ketika dalam posisi menguntungkan secara pribadi, memiliki kontrol diri yang rendah, mempunyai persepsi bahwa korupsi tidak berdampak (kerugian dan kebal hukum), Narasi rasionalisasi tampaknya membuat korupsi lebih dapat diterima.

Emosi seperti rasa bersalah dapat membuat lebih sedikit kemungkinan bagi individu untuk bertindak korup. Untuk mengurangi pengaruh kognitif ini, perlunya langkah-langkah yang meningkatkan informasi untuk menghargai perilaku etis dengan penetapan standar integritas dan pengambilan keputusan. (*/ima)

Baca Juga:

  • Novia Widyasari yang Diduga Bunuh Diri Sudah 2 Kali Dihamili Polisi Pacarnya dan 2 Kali Diaborsi.
  • Prihatin Wali Kota Portal Alun-alun, Warga: Kita Ingin Tak Ada Egoisme dan Arogansi Kekuasaan.

Berita Terkait

Berita Terbaru