Kuat Dugaan Pembunuh Editor Metro TV Orang Dekat, Kemungkinan Motif Asmara Sangat Kecil

JAKARTA - Kasus Kematian editor Metro TV Yodi Prabowo masih mengundang banyak tanda tanya. Berbagai spekulasi berkembang untuk mengungkap motif pembunuhan pemuda itu.

Sampai sekarang, polisi belum berhasil mengungkap siapa pelaku yang tega membunuh editor gambar televisi swasta tersebut.

Dikutip dari Pojoksatu, Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Arthur Josias Simon Runturambi menilai jika melihat dari kronologi kejadian, dugaan pelaku pembunuhan mengarah kepada orang dekat atau rekan kerja korban.

Sebab, dari kejadian tersebut barang- barang berharga korban satupun tidak ada yang hilang.

“Kemungkinan dugaan orang dekat ya. Karena kalau orang jauh kan misalnya kalau iya ingin mengambil harta bendanya, kan gak hilang, motor gak hilang,” kata Simon, Senin (13/7).

Simon juga tak menampik bila motif peristiwa pembunuhan tersebut dikaitkan dengan kehadiran orang ketiga antara hubungan asmara korban dengan sang kekasihnya.

Namun, dugaan motif ke arah asmara dinilai sangat kecil. Pasalnya, dilihat dari alur kejadian tersebut memang seperti sudah direncanakan oleh pelaku.

“Kalau orang ketiga (asmara) antara hubungannya dengan pacarnya bisa ia tapi bisa penyelidikan ya. Tapi, kemungkinan motif pribadi lebih besar dari motif ekonomi ya (atau asmara). Apalagi barang bukti tidak hilang ini sangat mungkin motif pribadi. Artinya ini sudah ada direncanakan kejahatan. Tapi ini perlu dibuktikan oleh polisi,” ungkapnya.

Diketahui, Yodi Prabowo ditemukan tewas di pinggir Tol JORR Pesanggrahan Jalan Ulujami Raya, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7).

Kasat Reskrim Polsek Pesanggrahan Fajhrul Choir mengatakan, jasad Yodi ditemukan pada pukul 11.45 WIB.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, jasad Yodi ditemukan oleh tiga anak kecil yang bermain layangan di pinggir Tol JORR.

Di tempat penemuan mayat, polisi menemukan dompet berisi KTP, NPWP, kartu ATM, sepeda motor Honda Beat warna putih bernomor B 6750 WHC, tiga STNK, uang sebesar Rp40.000, helm, jaket, dan tas milik korban. (fir/pojoksatu/ima)

Baca Juga:

  • Bupati Pemalang Dicibir Netizen Pura-pura Positif Covid-19: Saya Biasa Dibully.
  • Penahanan Djoko Tjandra Dianggap Tidak Sah, Kejagung: Kejaksaan Hanya Menjalani Eksekusi Bukan Penahanan.

Berita Terkait

Berita Terbaru