Lebih Pilih Tinggal di Istana Bogor, Presiden Jokowi: Meja, Kursi, Pintu, dan Dinding Bisa Bicara

JAKARTA - Bukan tanpa alasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sampai kini lebih memilih untuk tinggal dan menetap di Istana Bogor ketimbang di Istana Merdeka, Jakarta. Ternyata ada kisah 'mistis' yang melatarbelakangi pilihan sang Presiden itu.

Mantan Wali Kota Surakarta itu enggan menetap di Istana Merdeka salah satu alasannya, karena dinding Istana disebut bisa 'berbicara'. Kisah klenik itu diceritakan melalui buku Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Dua: Dalam Pusaran Kekuasaan.

Cerita itu sudah secara jelas dirangkum dalam bagian atau bab buku berjudul Dinding Istana Pun Bisa Bicara. Dalam buku itu, politisi senior PDIP, Panda Nababan mengatakan Jokowi bukan satu-satunya presiden yang tidak betah tinggal di Istana Merdeka.

Selama Indonesia berdiri, hanya ada dua presiden yang betah berada di Istana Merdeka. Keduanya, ungkap Panda, adalah Presiden ke-1 RI, Ir. Soekarno dan Preisden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sebenarnya, ungkap Panda, pada awal-awal menjadi presiden, Jokowi dan Ibu Iriana sempat memilih untuk menetap di Istana Merdeka, Jakarta. Tetapi kemudian ada satu dan lain hal yang membuat Jokowi serta Ibu Iriana lebih memilih pindah ke Istana Bogor.

"Jokowi memang awalnya memilih tinggal di Istana Merdeka, Jakarta, dan sesekali menginap di Istana Bogor. Namun, kemudian, Jokowi lebih memilih tinggal di Istana Bogor," tulis Panda Nababan dalam bukunya yang dikutip, Jumat (1/7).

Mengetahui hal itu, Panda Nababan lantas bertanya ke Jokowi apa alasan yang melandaskan dia untuk pindah dari Istana Merdeka untuk menetap di Istana Bogor.

"Jokowi mengatakan kepada saya, dirinya merasa tidak nyaman dan aman tinggal di Istana Merdeka," kata Panda sebagaimana yang dikutip dari disway.id.

Lalu Apa alasan yang sebenarnya membuat Jokowi tidak nyaman dan betah tinggal di Istana Merdeka, Jakarta Pusat? "Meja, kursi, pintu, dan dinding bisa bicara," jawab Jokowi.

Panda kemudian bertanya lagi kepada Jokowi apa maksud dari alasan yang membuatnya tak nyaman tinggal di Istana Merdeka itu. "Tidak ada pembicaraan yang bisa dirahasiakan. Semua pembicaraan dalam waktu yang singkat bocor," tutur Jokowi.

Panda yang kaget mendengar alasan Jokowi itu langsung bertanya kepada Mensesneg Pratikno, Andi Widjajanto yang saat itu masih menjadi Sekretaris Kabinet dan Luhut Binsar Pandjaitan, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

Akan tetapi ternyata ketiga orang tersebut sama sekali tidak pernah mengetahui dan mendengar cerita dari Jokowi tentang hal tersebut. Karena masih penasaran, Panda Nababan akhirnya menanyakan pertanyaan yang sama kepada purnawirawan TNI yang pernah menjadi perwira intelijen.

Setelah itu, barulah Panda Nababan mendapat jawaban yang jelas dari sang purnawirawan TNI yang tak disebutkan namanya itu. Disebutkan bahwa sebenarnya memang ada alat seperti proyektil yang bisa saja ditembakkan ke dinding suatu ruangan, lalu dinding itu merekam pembicaraan orang tersebut.

Bahkan alat itu dikatakan mampu ditembakkan dari kawasan Istana, seperti Jalan Merdeka Barat, Jalan Merdeka Utara, sampai ke Jalan Veteran.

"Beda halnya dengan Abdurrahman Wahid. Dia justru memilih tinggal di Istana Merdeka selama menjadi presiden. Gus Dur tidak takut pembicaraan di Istana disadap. Bahkan, di masa itu, Gus Dur mengubah suasana Istana menjadi lebih 'kerakyatan'," ujar Panda.

"Artinya, orang bisa masuk Istana dengan memakai sandal dan mengenakan kain sarung. Juga bebas merokok, sehingga gordin-gordin dan karpet pun bau asap rokok semuanya," tambahnya. (dis/zul)

Baca Juga:

  • Ditahan di Tempat Khusus Mako Brimob Kelapa Dua, Ferdy Sambo Bisa Benar-benar Dipecat dan Dipidana.
  • Semua Polisi yang Halangi Penyidikan Tewasnya Brigadir J Bisa Dipidana, Kompolnas: Mohon Sabar.

Berita Terkait

Berita Terbaru