Makin Sepi Peminat, Muannas Alaidid Sebut Reuni 212 Bukti Jualan Agama Demi Politik Sudah Tak Laku

JAKARTA - Makin sepinya Reuni 212 membuktikan bahwa jualan agama demi politik sudah tidak laku lagi.

Hal ini seperti dikatakan Ketua Cyber Indonesia Muannas Alaidid saat menilai acara Reuni 212 yang digelar hari ini, Kamis (2/12).

Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa umat sudah mulai melek akan orientasi digelarnya Reuni 212 tersebut.

“Tahun ke tahun (Reuni 212) makin sepi peminat, meski panitia sesumbar akan dihadiri jutaan massa, faktanya makin ke sini kan kosong melompong,” kata Muannas dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/12).

“Umat tak lagi mendukung. Ini bukti jualan agama demi politik sudah gak laku,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, dari pemberitaan saat ini, kabanyakan yang mengikuti reuni kali ini hanyalah mereka yang berlatar belakang dari dua ormas terlarang yaitu anggota FPI dan Hizbut Tahrir atau ex HTI.

“FPI dan Hizbut Tahrir atau eks HTI yang selalu mendominasi menjadi panitia dan penggagas acara reuni ini tiap tahunnya,” ujarnya dikutip dari Pojoksatu.

Muannas menuturkan bahwa acara Reuni 212 yang digelar di tengah pandemi, sangat tidak pantas dan melukai perjuangan para dokter, relawan serta semua pihak khususnya mereka yang menjadi korban karena ancaman virus Covid-19 ini yang belum tahu kapan berakhir.

“Kalau niatnya baik, reuni harusnya sewa gedung atau tempat dan tetap jaga prokes untuk keselamatan bersama. Bukan malah di jalan-alan,” ucapnya.

“Kalau perlu Gubernur Anies turun tangan fasilitasi mereka, karena sejak kelahirannya gerakan 212 ini, beliau (Anies) yang paling diuntungkan menjadi mesin pendukung suara sejak pilkada 2017 lalu, bahkan modal untuk pemilihan Presiden 2024 mendatang,” terangnya.

Ia menuturkan, panitia Reuni 212 bisa saja dijerat sesuai tindak pidana Pasal 510 KUHP ayat 1. Namun, nampaknya Kepolisian lebih mengedepankan pendekatan yang komunikatif dan persuasif.

“Bisa saja dijerat ke mereka yang tetap turun ke jalan tanpa izin yakni soal mengadakan keramaian umum dan mengadakan pawai di jalan umum,” jelasnya.

“Saya yakin pihak kepolisian dan petugas akan tetap mengedepankan pendekatan yang komunikatif dan persuasif terhadap mereka, semua ini dilakukan demi keselamatan kita bersama dari ancaman pandemi,” tuturnya.

Seperti diketahui, aksi 212 merupakan aksi unjuk rasa dari umat Islam yang digerakkan oleh Habib Rizieq Shihab pada 2 Desember 2016 untuk menegakkan hukum terhadap penista agama.

Kala itu, massa aksi 212 menuntut agar gubernur DKI Jakarta yang saat itu dijabat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok agar dipenjarakan karena menistakan Alquran yang merupakan kitab suci umat Islam.

Setelah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok resmi dipenjarakan, aksi 212 akhirnya rutin diselenggarakan setiap tanggal 2 Desember.

Alasannya sebagai momen untuk mengingat persatuan umat islam di Indonesia. (fir/pojoksatu/ima)

Baca Juga:

  • Ada Pergerakan 20 Pasukan di Luar Kendali Dukung Sambo, Ketua IPW: Brimob Sampai Tak Ingin Bentrok.
  • Satgas UU Cipta Kerja Itikad Bagus Pemerintah, Ganjar: Mudah-mudahan Bisa Menyerap Aspirasi Masyarakat.

Berita Terkait

Berita Terbaru