MELETUSNYA PERANG DUNIA 3 ANTARA NEGARA RUSIA & UKRAINA

OLEH: NATASHA FARAS NABILA
MAHASISWI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG. FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA

DOSEN PEMBIMBING : Dr. IRA ALIA MAERANI, S.H., M.H.

Mayoritas masyarakat Negara Ukraina dan Rusia adalah pemeluk agama Kristen Ortodoks. Di Ukraina penduduk yang memeluk agama Islam hanya 4%.

Ketika Perang Dingin terjadi sebelum th. 1990, orang-orang Ukraina dan Rusia bersatu dalam sebuah Negara Federasi bernama Uni Soviet.

Presiden Rusia Boris Yaltsin menyetujui Uni Soviet dan Pakta Warsawa bubar, dan di tahun yang sama Ukraina memberikan suara untuk memerdekakan diri dari Uni Soviet dalam sebuah referendum. Selanjutnya Rusia, Ukraina dan Belarusia membentuk Commonwealth Of Independent States (CIS).

Namun perpecahan terjadi, Ukraina menganggap bahwa CIS adalah upaya Rusia untuk mengendalikan Negara-negara dibawah kekaisaran Rusia dan Uni Soviet.

Masa anti Pemerintah berhasil melengserkan mantan Presiden Ukraina yang pro – Rusia, Viktor Yunokovych. Kerusuhan bahkan sempat terjadi sebelum berdamai di 2015 dengan kesepakatan minsk.

Revolusi yang membuka keinginan Ukraina bergabung dengan Uni Eropa (UE) dan NATO membuat Presiden Rusia Vlandimir Putin marah, karena prospek berdirinya pangkalan NATO di sebelah perbatasannya.

Saat Yunokovych jatuh, Rusia menggunakan kekosongan kekuasaan untuk menduduki Krimea di 2014. Rusia juga mendukung separatis di Ukraina Timur, yakni Donetsk dan Luhansk untuk menentang Pemerintah Ukraina.

Rusia akhirnya benar-benar menyerang Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022, serangan Rusia kemudian di mulai di sejumlah kota di Ukraina termasuk Kyiv, Odessa, Kharkiv dan Meriupol.

Hingga kini ketegangan masih berlangsung. Artikeri dan pesawat tempur Rusia masih terus menggempur kota diseluruh Ukraina.

Di Mariupol sebuah kota pelabuhan utara di Tenggara, ratusan orang yang berdesakan di ruang bawah tanah sebuah gedung mulai kehabisan makanan dan banyak juga yang membutuhkan bantuan medis.

Memanasnya konflik antara Rusia dan Ukraina merupakan tanda awal Perang Dunia 3 tertuang dalam Al-qur’an surat Al- Baqarah ayat :216 (“ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas “).

Dan menurut Ust. Adi Hidayat Rosulullah diketahui pernah menyatakan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah adanya konflik yang besar.

Dampak dari perang Rusia dan Ukraina yaitu, komuditas melambung yang mengakibatkan harga minyak dan gas melonjak akibat kekhawatiran pasokan karena Rusia adalah salah satu produsen dan pengekspor bahan bakar fosil terbesar di dunia.

Menyebabkan badai kelaparan dan kehancuran system pangan global, Rusia dan Ukraina adalah lumbung pangan dunia menyumbangkan 30% dari ekspor gandum. Pasar Saham terguncang karena perang telah membawa volatilitas ke pasar, sementara bursa saham Moskow ditutup selama 3 minggu.

Banyak ratusan perusahaan barat melarikan diri dengan menutup toko dan kantor di Rusia sejak perang dimulai. Pertumbuhan ekonomi lebih lambat karena perang mengancam akan menjadi penghambat pemulihan ekonomi global dari pandemi Covid.

Di Indonesia, hal ini berkaitan juga dengan Pancasila sila ke 3 yang berbunyi Persatuan Indonesia, tertuang dalam butir 1, yaitu mampu menempatkan persatuan kesatuan serta kepentingan dan keselamatan Bangsa dan Negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan, juga pada butir 2, yaitu sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan Negara dan Bangsa apabila diperlukan, serta butir 5, yaitu memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tanggapan kita sebagai Bangsa Indonesia tentang peperangan Rusia dan Ukraina, mengingat saat ini Indonesia memegang Presidensi G20 dan memiliki kewajiban konstitusional.

Indonesia menerapkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif menurut UU No. 37 th. 1999 yang artinya Indonesia bebas menentukan sikap tanpa terikat pada salah satu poros politik dunia serta aktif dalam penyelesaian konflik global.

Pemerintah Indonesia selalu menyerukan perdamaian antara pihak berkonflik tanpa menuduh atau memihak salah satu pihak untuk tampil jadi penengah dalam perdamaian Rusia dan Ukraina melalui Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (MU PBB). (adv/ima)

Baca Juga:

  • Heboh! Ada Jatah Haji untuk Pejabat Kemenag, Anggota DPR, dan Ormas Islam.
  • Diserang Simpatisan Tersangka Pencabulan yang Juga Anak Kiai, Seorang Polisi Terluka.

Berita Terbaru