Menulis Itu Membaca

Oleh: Tri Mulyono*)

MENULIS itu membaca. Membaca apa saja. Membaca buku, membaca artikel, membaca koran, membaca makalah, dan membaca keadaan bisa dilakukan untuk menulis.

Soeseno (1984) menyebutkan bahwa menulis adalah membuat karya tulis berdasarkan tulisan, karangan, atau pernyataan gagasan orang lain. Tulisan itu bermacam-macam, seperti makalah, paper, skripsi, tesis, dan disertasi.

Artikel juga tulisan. Karangan itu bermacam-macam. Puisi termasuk karangan. Cerita pendek dan novek juga karangan. Termasuk naskah drama juga karangan. Yang dimaksud pernyataan gagasan orang lain adalah hasil wawancara.

Syafe’i (1994) menyebutkan tujuh pengertian membaca. Pertama, membaca merupakan bentuk pengembangan ketrampilan. Ketrampilan memakai kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis dan evaluatif keseluruhan isi bacaan.

Kedua, membaca adalah kediatann visual. Serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan termasuk membaca. Pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata termasuk membaca. Melihat ulang kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan juga termasuk membaca.

Ketiga, kegiatan mengamati dan memahami kata-kata nyang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut termasuk membaca. Semua itu dilakukan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yangtelah dipunyai pembaca.

Keempat, membaca adalah proses. Proses berpikir yang terjadi melalui mempersepsi dan memaknai informasi. Membaca adalah memberikan makna terhadap segala yang tertulis.

Kelima, membaca adalah proses mengolah informasi oleh pembaca dengan memanfaatkan informasi dalam bacaan dan pengetahuan. Membaca adalah proses memperoleh informasi berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya yang relevan dengan informasinya.

Keenam, membaca adalah proses menghubungkan tulisan dengan bunyinya sesuai sistem tulisan yang digunakan.

Ketujuh, membaca adalah kemamampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan. Membaca bukan hanya kegiatan mekanis, tetapi juga kegiatan menangkap maksud dari kelompok-kelompok kata yang membawa makna.

Yuliarti (2008: 27) di dalam bukunya yang berjudul Menjadi Penulis Profesional menyebutkan bahwa menjaring ide tulisan bisa dilakukan dengan sejumlah cara. Sejumlah cara dimaksud adalah banyak membaca, menjawab pertanyaan dari orang lain, berdiskusi dengan orang lain, dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Banyak Membaca

Banyak membaca ditempatkan pada bagian yang pertama. Ini bukan kebetulan, tetapi karena banyak membaca merupakan persyaratan bisa menulis yang pertama.

Jika ada orang yang menulis pada umumnya karena tidak membaca. Banyak mahasiswa S.1 macet menulis skripsi, karena tidak banyak membaca. Tidak sedikit mahasiswa S.2 dan S.3 yang tertunda lulusnya, bahkan tidak bisa lulus, karena tidak banyak membaca.

Oleh karena itu, kadang kala ada persyaratan jumlah bacaan dalam sebuah tulisan. Misalnya untuk skripsi minimal daftar pustakanya 41 judul buku, dua judul artikel dari jurnal internasional, dan 5 judul artikel dari jurnal nasional.

Untuk tesis dan disertasi persyaratannya lebih banyak lagi. Banyak mahasiswa yang gagal lulus karena tidak bisa memenuhi persyaratan itu.

Berdiskusi dengan Orang lain

Dalam kasus karya tulis mahasiswa, berdiskusi dengan orang lain bisa berupa bimbingan dari dosen. Setiap mahasiswa, dalam menulis karya tulis selalu dibimbing seorang dosen.

Menulis skripsi pada umumnya dibimbing oleh dua orang dosen pembimbing. Begitu juga ketika menulis disertasi, seorang mahasiswa dibimbing oleh dua orang pembimbing. Tetapi ketika menulis disertasi, seorang mahasiswa akan dibimbing oleh tiga orang pembimbing, yaitu promotor I, promotor II, dan promotor III.

Di dalam proses bimbingan antara mahasiswa dengan dosen pembimbingnya melakukan diskusi yang pada umumnya berupa masukan dari dosen pembimbing.

Banyak mahasiswa yang gagal lulus karena tidak bisa melakukan diskusi dengan baik. Artinya saran dan masukan dari pembimbing diabaikan begitu saja. Faktor penyebabnya bisa karena kurang bacaan, karena masukan dosen pembimbing biasanya berkaitan dengan bacaan.

Menjawab Pertanyaan Orang Lain

Menjawab pertanyaan dari orang lain, dalam kasus karya tulis mahasiswa, skripsi misalnya, bisa berupa ketika mahasiswa melakukan ujian. Dalam ujian skripsi, tesis, disertasi, mahasiswa mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulisnya.

Mahasiswa akan dapat menjawab pertanyaan penguji dengan baik apabila yang ditulisnya itu diketahuinya, dikuasanya. Dia akan mengetahui jika data yang dikumpulkan itu dikuasainya karena membaca sendiri.

Tetapi sebaliknya, jika data yang digunakan untuk menulis itu dengkulan, atau hanya pesanan dari orang lain, maka dia tidak akan bisa mempertanggungjawabkannya dengan baik. Dan dia akan tidak lulus jika tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang ditulis. Jadi persoalan banyak membaca akan menjadi sangat penting.

Peka terhadap Lingkungan

Seorang penulis harus peka lingkungan. Karena apa yang ditulis harus menarik perhatian. Juga aktual. Topik yang aktual akan diperoleh jika dan hanya jika penulisnya pekam terhadap lingkungan.

Rupa peka terhadap lingkungan itu bisa selalu mengikuti berita koran, tulisan-tulisan yang dimuat di jurnal, mengikuti berita-berita tv, dan lain sebagainya. Aklhirnya peka terhadap lingkungan juga berupa suka membaca. Baik membaca tulisan maupun membaca keadaan.

Sampai di sini bisa disimpulkann bahwa menulis itu membaca. Belajar menulis bisa dilakukan dengan cara banyak membaca.

Karena dengan membaca penulis mempunyai bahan. Menulis adalah membaca. Dengan banyak membaca penulis akan mendapatkan ide dan mendapatkan banyak cara.

Berdasarkan hal itu, memperhatikan kenyataan yang dialami para mahasiswa yang tidak bisa lancar dalam menulis maka sebagai jalan keluarnya adalah dengan banyak membaca.

Menulis makalah ingin lancar, banyak membaca. Menulis resensi ingin tanpa hambatan, harus banyak membaca. Menulis tesis, disertasi, dan berbagai laporan lainnya jika ingin lancar maka harus banyak membaca. Karena kurang membaca biasanya yang menjadi halbatan kelancaran menulis. (**)

*) Dosen FKIP UPS Tegal, Sekretaris Direktur Pascasarjana UPS Tegal

Baca Juga:

  • Iwan Sumule Sebut Rezim Sontoloyo ke Jokowi yang Janjikan Ekonomi Meroket Tapi Sembako Mau Dipajakin.
  • Prof IDI Usul Lockdown Lagi, Netizen: Tak Akan Terjadi, karena Presiden Jokowi Alergi Istilah Itu.

Berita Terkait

Berita Terbaru