Menulis Itu Seperti Berbicara

Oleh Tri Mulyono
Dosen Magister Pedagogi UPS Tegal

Menulis itu seperti berbicara. Sama mudahnya. Sama gampangnya. Barangkali karena itu, Satria Nova menulis buku. Judulnya Agar Menulis Seenteng Bicara.

Menurutnya menulis dan berbicara tidak berbeda. Sama gampangnya. Sama mudahnya. Arswendo Atmowiloto, di dalam bukunya yang berjudul Mengarang Itu Gampang mengatakan bahwa untuk bisa menulis syaratnya ada tiga: bisa menulis, bisa membaca, dan bisa berbicara.

Menulis adalah membuat karya tulis berdasarkan tulisan, karangan, atau pernyataanb gagasan orang lain. Membaca adalah menerjemahkan lambang-lambang grafis fonologis. Sementara itu, yang dimaksud berbicara adalah ngomong atau bilang.

Tidak bisa membaca dan menulis juga bisa menulis. Artinya dapat menghasilkan tulisan. Kitab Suci Al-Qur’an yang mulia itu, dihasilkan seorang Rasul yang tidak bisa membaca dan menulis.

Beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW. Mereka yang tidak bisa membaca dan menulis tetap saja bisa menulis. Caranya dengan menceritakan ide atau gagasannya kepada orang lain. Orang lain itulah yang akan menuliskannya. Tidak perlu heran jika pemenang lomba penulisan karya ilmiah remaja di Jepang, beberapa puluh tahun yang lalu adalah seorang gadis buta tuli. Dia menulis berkat bantuan ibunya yang penyabar sekali.

Andrias Harefa, dalam bukunya yang berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang, mengatakan bahwa agar menulis dan mengarang bisa gampang syaratnya ada dua: ada visi dan motivasi.

Visi artinya impian. Dengan adanya impian menulis akan menjadi mudah. Mengarang akan menjadi gampang. Andrias Harefa misalnya, begitu subur dalam menulis, banyak menghasilkan tulisan berupa buku karena mempunyai visi 100 buku.

Dia menginginkan dapat menulis 100 judul buku dalam hidupnya. Karena dorongan visi itulah dia subur menulis dan menghasilkan tulisan. Termasuk satu judul buku yang terkenal itu, Menjadi Manusia Pembelajar.

Yudiono, KS, dalam bukunya Bahasa Indonesia untuk Penulisan Ilmiah menyebutkan bahwa motivasi menulis itu ada tugas, intelektual, komersial, dan karena ingin terkenal.

Pertama, menulis itu bisa dilakukan karena tugas. Dengan adanya tugas, maka seseorang bisa menghasilkan tulisan. Mahasiswa misalnya. Mereka menulis makalah, paper, laporan, artikel, dan tesis karena tugas. Karena mendapatkan tugas dari dosennya mereka menghasilkan tulisan.

Dosen juga begitu. Menghasilkan tulisan banyak yang karena tugas. Seorang dosen menulis laporan penelitian dan pengabdiaan kepada masyarakat karena mendapatkan tugas dari rektornya.

Mereka menulis artikel dan makalah untuk dipresentasikan pada forum ilmiah karena tugas juga dari rektornya. Tanpa tugas dari rektor, seorang dosen tidak pernah akan menulis. Seperti guru juga. Di sekolah-sekolah yang ada.

Tetapi menulis juga bisa didasari oleh semangat intelektual. Dosen dan mahasiswa adalah seorang intelektual. Orang yang mempunyai tugas mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena semangat mengembangkan ilmu pengetahuan itu, dosen dan mahasiswa rela mengeluarkan uang untuk mempresentasikan makalahnya di forum ilmiah. Rela mengeluarkan biaya agar artikelnya terbit di jurnal dan prosiding ilmiah.

Semangat komersial atau untuk mendapatkan imbalan juga menjadi salah satu motivasi menulis. Menulis artikel di kompas ada honornya. Begitu juga artikel ilmiah populer yang terbit di media atau koran-koran yang lain. Ada imbalannya. Seperti terbitnya buku yang ada royaltinya. Tidak sedikit dosen dan mahasiswa yang menulis karena semangat itu. Karena untuk mendapatkan imbalan. Jadi menulis sebagai profesi yang menguntungkan.

Jika ingin terkenal juga bisa dengan menulis. Menulis apa pun. Menulis di mana pun. Yang penting dipublikasikan. Menulis bisa menyebabkan penulisnya menjadi terkenal. Menjadi terkenal adalah investasi yang sangat mahal. Karena setelah terkenal bisa menjadi apa pun. Karena banyak menulis dan akhirnya terkenal, AA Navis bisa menjadi anggota dewan.

Hal yang sama juga dialami Cory Layun Rampan. Di Jawa Tengah ada Bambang Sadono, yang awalnya menjadi penulis dan wartawan Suara Merdeka.

Oleh karena itu, menulislah seperti berbicara. Seperti menulisnya seorang wartawan setelah melakukan wawancara. Sebuah hasil wawancara yang kemudian ditulis menjadi sebuah berita. Setelah diperbaiki. Setelah dibuat rapi. (*/ima)

Baca Juga:

  • Keren... Lokomotif Tua Buatan Jerman Sudah Diparkir di Taman Pancasila, Bakal Ada Lampu dan Suaranya.
  • Ajukan Judicial Review AD/ART Partai Demokrat, Yusril Gandeng Wisudawan Terbaik Program Doktor UMI.

Berita Terkait

Berita Terbaru