Miris Ngeri

Oleh: Dahlan Iskan

AWALNYA saya tidak tertarik mengikuti berita H. Muhammad Kace ini. Apa manfaatnya.

Tapi begitu ia ditangkap polisi barulah saya ingin tahu: mengapa?

Oh… klasik: penghinaan agama.

Saya pun kembali malas mengikuti berita itu.

Ups… Ada yang aneh. Kok kali ini jalur ”NU garis lurus”, tumben, ikut bersuara. Kenceng pula. Bahkan ikut melapor ke polisi. Biasanya NU garis lurus toleran dengan yang seperti itu. Apalagi NU yang garis lucu.

Rupanya Kace sering menyebut kitab kuning. Yang ia anggap menyesatkan umat Islam. Ajaran yang tidak ada dalam Alquran pun diada-adakan di kitab kuning.

Kitab kuning adalah istilah untuk buku-buku pelajaran agama dengan tulisan Arab tanpa tanda baca. Hanya yang pinter bahasa Arab yang bisa membacanya secara benar. Buku-buku tersebut begitu lamanya sampai warnanya sudah kuning. Maka buku sejenis itu, biar pun masih baru, disebut juga kitab kuning.

Misalnya soal keharusan khitan dalam Islam (memotong kulit yang menutup bagian ujung kemaluan laki-laki sepanjang sekitar 10 cm). Menurut Kace, khitan itu tidak diajarkan di dalam Quran maupun Hadis.

Ia menantang siapa pun untuk menunjukkan ayat mana yang mengharuskan khitan. Pun tidak ada satu Hadis yang mengharuskan khitan.

Saya pun teringat pelajaran di pesantren dulu: hadis adalah segala kata-kata yang pernah diucapkan Nabi Muhammad dan tindakan apa saja yang pernah dilakukan Rasul Allah itu.

Saya pun mencoba mendengarkan sendiri seperti apa kalimat utuh yang diucapkan Kace. Maka saya membuka YouTube.

Ya ampuuuuun. Banyak sekali Kace tampil di YouTube. Bukan sekali atau dua kali. Puluhan. Ratusan.

Berarti ini tidak sama dengan kasus BTP dulu, yang bersumber hanya satu penggal ayat di Quran. Yang begitu multitafsir pula.

Yang dilakukan Kace ini bukan salah ucap dan bukan pula salah tafsir. Juga tidak ada kepentingan politik sempit di baliknya. Entahlah kalau politik yang lebih luas.

Berarti Kace itu sudah YouTuber! Ia sengaja membuka channel di YouTube untuk mempersoalkan isi ayat-ayat Quran, menurut versinya. Hanya saja gayanya memang sangat menarik perhatian: pakai baju batik, kopiah hitam, dan lambang Garuda dengan ukuran cukup mencolok di kiri depan kopiah itu.

Ucapan pertamanya langsung menohok: Assalamu’alaikum WarahmatuYesus Wabarokatuh.

Kalimat keduanya masih mirip itu: AlhamdulilYesus….

Pengucapan bahasa Arabnya sangat fasih. Saya kalah fasih. Terlihat Kace pernah lama sekolah di pesantren. Ia sendiri mengaku sudah beberapa kali naik haji. Kini ia penganut Kristen. Dengan KTP tetap menggunakan nama lama: H. Muhammad Kosman.

Rupanya Muhammad Kace itu nama di YouTube saja. Jangan-jangan ia sengaja memakai nama panggilan Kace karena pernah diejek dengan kata itu.

Di Sunda –konon ia berasal dari Jawa Barat– tidak biasa orang pakai nama Kace. Tapi istilah ”kace” sering dijadikan bahan ejekan: kafir celaka.

Di YouTube-nya itu Kace juga menantang siapa pun untuk ikut muncul di forum live itu. Ia minta ditunjukkan ayat Quran yang mana yang menyebutkan orang Islam itu dijamin masuk surga.

Kace pun mengutip banyak ayat Quran dengan bacaan yang sangat fasih. “Yang oleh Quran dijamin masuk surga itu bukan orang Islam, tapi orang yang beriman dan beramal saleh”, katanya.

Sebetulnya penilaian seperti itu tidak baru. Tapi tetap bikin penasaran.

Kami, di lingkungan aktivis Islam intelektual, sebenarnya juga sering mendiskusikan ayat-ayat Quran seperti itu. Biasa saja. Bahkan lebih sensitif dari itu: Tuhan itu ada atau tidak sih? Apakah orang yang bukan Islam, menurut doktrin Islam, bisa masuk surga? Di universitas seperti UIN –khususnya jurusan filsafat– mendiskusikan yang seperti itu makanan sehari-hari. Bisa sepanjang malam. Bisa mengalahkan drama Korea.

Bedanya, Kace menyelenggarakan itu di YouTube. Isi YouTube-nya itu bukan ceramah. Bukan monolog. Kace sengaja membuka channel YouTube yang mirip Zoom. Live. Siapa saja bisa bergabung di channel itu. Untuk bicara bebas sesuai dengan tema hari itu.

Hanya saja Kace yang memegang ”mikrofon”. Ia bisa mematikan mikrofon siapa saja. Termasuk mikrofon pembicara lain. Dengan cara ia mute.

Jangan harap yang bicaranya emosi tanpa dasar dibiarkan terus bicara. Langsung di-mute oleh Kace.

Saya pernah mengikuti rekaman YouTube-nya yang seperti itu. Tiga jam. Belum juga selesai. Begitu banyak WA dan email terabaikan. Padahal tidak melihat HP 30 menit saja, WA yang harus dijawab begitu banyak. Saya begitu keasyikan menonton acara Kace itu –ingat pelajaran masa-masa di sekolah dulu.

Di forum itu, Kace juga memberikan pelayanan Quran online. Setiap ada yang mengutip ayat Quran ia tampilkan ayat dimaksud. Lengkap dengan terjemahannya. Lalu ia baca ayat itu dengan fasihnya. Ia baca pula terjemahannya. Tafsir Quran apa saja ia sediakan. “Kalau tidak puas dengan ini, buka saja Tafsir Jalalain. Atau tafsir Ibnu Katsir, atau Quraish Shihab…,” kata Kace.

Saya melihat ada juga orang Islam yang gabung ke channel itu. Saya lupa namanya. Tapi kelihatannya ia intelektual. Mungkin hafal Quran. Orangnya sabar. Kalem. Banyak tersenyum. Sesekali tertawa bersama. Tidak pernah emosi. Termasuk ketika Kace begitu sinis padanya.

Banyak ayat Quran didiskusikan di channel itu. Ada soal Mariam (Islam) atau Maria (Kristen). Yakni soal jenis roh yang ditiupkan ke perawan Maria. Yang dalam Kristen digunakan sebagai alasan untuk menyebut Yesus itu Tuhan.

Ada juga diskusi soal mengapa orang Islam mati-matian membela Tuhannya. Sampai bunuh-bunuhan. Seolah Tuhan itu tidak berkuasa membela diri Tuhan sendiri –seperti juga sering diucapkan Gus Dur dulu. Begitu banyak topik di banyak acara YouTube itu.

Cara Kace ini rupanya menginspirasi kelompok Kristen yang lain. Saya lihat, ada juga channel tantang-menantang di YouTube seperti itu. Bukan Muhammad Kace pemiliknya. Kace hanya tamu di situ.

Yang dipersoalkan, misalnya, ”siapa yang lebih dulu menghina agama lain”. Saya lihat ada juga orang Islam yang masuk ke channel itu, melayani tantangan itu.

Di layar itu juga ditampilkan ayat Quran. Dari surah Al Bayyinah ayat 6: orang-orang kafir dan musyrik akan masuk neraka jahanam selama-lamanya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.

“Bunyi ayat seperti itu menghina atau tidak,” tanya yang dari Kristen.

“Itu tidak ada hubungan dengan menghina atau menghargai. Itu doktrin Islam,” jawab yang Islam.

“Itu kami anggap menghina, karena diucapkan di depan umum. Kalau diucapkan di dalam masjid itu tidak kami anggap menghina,” kata yang Kristen. Saya lupa mencatat namanya. Tapi saya ingat yang dari Islam itu bernama Nasution.

“Di depan umum” yang dimaksud ternyata adalah di Toa. Semula saya sulit menangkap apa itu Toa. Saya pun ingat: di Indonesia Timur semua jenis pengeras suara disebut Toa –apa pun mereknya.

“Kalau Toa itu hanya di dalam masjid tidak apa-apa. Tapi kan dipasang di atas masjid, kedengaran siapa saja,” kata yang Kristen. Apalagi kalau masjid itu di kampung yang penduduknya multiagama.

Setelah lebih dari empat jam mengikuti channel seperti itu saya mblenger. Ketakutan. Ngeri. Jenuh. Kapok.

Sejak tadi malam saya tidak mau lagi membuka channel seperti itu. Miris. Hati saya menjadi tidak damai. Padahal saya ini tidak boleh lupa bahagia –hampir saja saya lupa.

Saya juga merenung: apa untungnya membuka channel seperti itu. Apa untungnya melihatnya. Apa manfaatnya bagi bangsa.

Saya saksikan di situ, sulit sekali bisa bersepakat. Tidak ada pendapat yang bisa bertemu. Saling klaim. Saling benar. Saling mau menang.

Saya miris. Ngeri.

Tapi di negeri seperti Amerika yang seperti itu biasa saja. Tidak sensitif.

Jangan-jangan ada baiknya juga yang seperti itu mulai dibuka di Indonesia. Asal tidak berantem. Biar mulai terbiasa. Toh yang seperti ini tidak bisa juga terlalu dibendung. Siapa pun bisa bikin channel seperti itu. Kalau tidak bisa dari Indonesia bisa dari negara mana saja, dengan bahasa Indonesia.

Tapi saya ngeri. Miris.

Mungkin perasaan saya saja. (dis)

Baca Juga:

  • Polisi Sederhana dan Jujur, Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional.
  • Tes SKD Cuma Tujuh Detik, Ternyata CASN Ketahuan Curang Kerjakan soal Pakai Software.

Berita Terkait

Berita Terbaru