Pemerintah Jawab Kritikan MUI Libur Maulid Nabi Digeser karena 'Hari Kejepit', Ternyata Liburnya Hari Selasa

JAKARTA - Kritikan yang disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI), karena pergeseran hari libur Maulid Nabi 2021 direspons Menko PMK Muhadjir Effendy. Muhadjir menyebut penggeseran itu akibat ‘hari kejepit’, tetapi ternyata 19 Oktober adalah hari Selasa.

Hari libur Maulid Nabi yang diperingati setiap 12 Rabiul Awal, untuk tahun 1443 H ini jatuh, Selasa (19/10) nanti. Namun pemerintah kembali membuat kebijakan tak populis, dengan menggeser libur Maulid Nabi ini ke, Rabu (20/10).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melayangkan kritik atas kebijakan ini. Dan Menko PMK Muhadjir Effendy lalu merespon hal tersebut.

“Itu kritik positif dan konstruktif. Apa yang disampaikan oleh MUI itu juga sudah menjadi bahan pertimbangan ketika keputusan menggeser hari libur diambil,” ujar Muhadjir, Senin (11/10).

“Hari libur keagamaan yang digeser hanya yang jatuh di hari ‘kejepit’, yang membuat jangka waktu libur menjadi panjang,” terangnya.

Kebijakan ini diambil, kata Muhadjir, berkaca dari hari-hari libur panjang sebelumnya. Di mana orang-orang melakukan pergerakan besar-besaran jika terdapat hari kejepit.

Karena itu, sangat berisiko terjadi penyebaran kasus Corona di hari kejepit karena sebagian besar masyarakat memanfaatkan waktu luang pergi ke luar kota.

“Untuk situasi saat ini risiko itu masih sangat mungkin terjadi dan harus dihindari. Dan menurut kaidah agama menghindari risiko itu lebih diutamakan daripada faedah yang ada dalam liburan itu,” kata Muhadjir.

“Pertimbangan lain bahwa hari besar keagamaan yang waktu liburnya digeser itu di dalamnya tidak ada kegiatan ritual yang wajib diselenggarakan,” lanjutnya. (ral/int/pojoksatu)

Baca Juga:

  • Polisi Sederhana dan Jujur, Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional.
  • Tes SKD Cuma Tujuh Detik, Ternyata CASN Ketahuan Curang Kerjakan soal Pakai Software.

Berita Terbaru