Penusuk Syekh Ali Jaber Dijerat Pasal Berlapis, BNPT: Dalami Apakah Pelaku Terafiliasi dengan Jaringan Teror atau Tidak

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan kasus penusukan Syekh Ali Jaber akan diusut tuntas. Hasilnya akan diumumkan secara terbuka berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia.

"Insya Allah kita akan menuntaskannya secara sangat terbuka kepada masyarakat, kepada Syekh dan keluarga semuanya. Kita akan memprosesnya secara baik berdasar hukum yang berlaku di Indonesia. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama sudah terungkap, dan prosesnya bisa lebih cepat," katanya.

Mahfud pun mendoakan agar Syekh Ali Jaber segera pulih, dan bisa kembali berdakwah untuk umat Islam di Indonesia.

"Saya atas nama pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia terutama umat Islam, ikut mendoakan mudah-mudahan segera pulih kembali dan berkiprah kembali membangun kehidupan rohaniah yang lebih sehat bagi umat Islam Indonesia," ujar Mahfud.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Awi Setiyono mengungkapkan tersangka Alpin Adrian terancam dikenakan pasal berlapis. "Yang bersangkutan dipersangkakan terkait penganiayaan berat dan membawa senjata tajam tanpa hak sesuai Pasal 351 Ayat 2 dengan ancaman pidana penjara lima tahun dan Pasal 2 Ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun Tahun 1951 dengan ancaman penjara 10 tahun," katanya.

Ditegaskannya, Polri sangat serius menangani kasus ini. "Bahwasanya Polri sangat serius dalam menangani kasus ini. Saat ini kasus ditangani oleh Polresta Bandar Lampung," katanya.

Polisi telah menahan tersangka Alpin Adrian sampai dengan 20 hari ke depan. Sejauh ini penyidik Polresta Bandar Lampung sudah memeriksa delapan saksi dalam kasus tersebut.

Selanjutnya penyidik akan melakukan visum et repertum terhadap korban dan tersangka. Korban diketahui mengalami luka tusuk sedalam 4 centimeter dan sudah dilakukan dilakukan tindakan pengobatan dengan memberikan enam jahitan.

"Sementara visum et repertum tersangka untuk dimintakan pemeriksaan secara medis terkait informasi gangguan kejiwaaan ke RSJ Kurungan Nyawa, Lampung," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar pihaknya bersama penegak hukum akan mendalami informasi yang menyebutkan pelaku mengalami gangguan jiwa.

Keterangan pelaku mengalami gangguan jiwa itu dibuktikan dengan surat keterangan yang diterbitkan oleh sebuah rumah sakit di Lampung pada tahun 2016.

"Berdasarkan keterangan beberapa saksi dan informasi dari lingkungan keluarga menyebutkan pelaku penusukan Syekh Ali Jaber mengalami gangguan jiwa sudah sejak 5 tahun lalu," katanya.

Meski demikian, menurutnya, BNPT tidak percaya begitu saja atas informasi dan keterangan tersebut.

"Terkait penyerangan ulama Syekh Ali Jaber, kami dengan penegak hukum mendalami apakah pelaku terafiliasi dengan jaringan teror atau tidak, dan juga terkait jejak digitalnya," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Humas Rumah Sakit Jiwa (RSJ)Kurungan Nyawa, Lampung, David mengatakan pihaknya tak memiliki data rekam medis Alpin Adrian pernah dirawat.

“Setelah pengakuan tersangka pernah dirawat di RSJ. Kami bolak-balik data empat tahun terakhir 2016 sampai 2020 tidak ada datanya,” katanya.

Dijelaskannya, jika ada pasien yang pernah dirawat inap maupun rawat jalan, dan konsultasi dengan dokter poliklinik serta di Unit Gawat Darurat (UDG) di RSJ Lampung, dipastikan datanya terekam di data administrasi kantor.

"Tak mungkin ada data yang terlewat bila seorang pasien yang berobat, rawat inap, dan rawat jalan, termasuk pasien masuk UGD rekam medisnya tidak terdata. Data rekam medis telah dibuka sejak 2016 hingga 2020 empat tahun terakhir datanya atas nama tersebut tidak ada," tegasnya.

Jika orangtua Alpin Adrian menyebutkan kepada penyidik (polisi) atau kepada wartawan bahwa ia pernah memasukkan anaknya dan dirawat inap karena gangguan mental atau jiwa di RSJ, tentu harus dilihat tempatnya.

“Kalau di RSJ Lampung, tidak ada data rekam medisnya, mungkin di tempat lain, saya tidak tahu,” ujarnya. (gw/zul/fin)

Baca Juga:

  • Sesalkan Febri Diansyah Mundur, Wakil Ketua KPK: Dia Pegawai yang Turut Mengawal dan Membesarkan Nama KPK..
  • Benarkan Dirinya Ditegur Ganjar dan Kapolri, Wali Kota Tegal: Tegal Selatan Akan Kami Swab Massal.

Berita Terkait

Berita Terbaru