Polisi Disebut Sukses Bikin Publik Bingung, Praktisi Hukum: Sampai Kapan Mau Ditutup-tutupi

JAKARTA - Sudah 20 hari Brigadir Nopryansah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J tewas ditembak, namun polisi belum menetapkan tersangkanya. Wajar jika publik bertanya-tanya dan terkesan lebih menyalahkan Polri.

Apalagi Brigadir J tewas dalam baku tembak antara dua polisi yang sama-sama ajudan mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Pol Ferdy Sambo di rumah dinasnya Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (8/7). Brigadir J mati usai terkena tembakan Bharada E.

Bharada E yang bernama lengkap Richard Eliezer Pudihang Lumliu hingga kini masih berstatus saksi. Dia pun sudah dimintai keterangan Komnas HAM, usai meminta perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Inilah yang kemudian memunculkan opini masyarakat bahwa ‘drama’ yang dimainkan polisi berhasil membuat bingung melalui pernyataan-pernyataan pejabatnya.

Terkini, Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, bahkan blak-blakan mengungkapkan lambatnya penuntasan kasus tewasnya Brigadir J. Menurutnya, komunikasi di internal Polri justru menimbulkan ketidakpercayaan publik pada penanganan kasus yang menggemparkan ini.

Komunikasi yang buruk ini juga menjadi tantangan besar bagi tim khusus bentukan Kapolri yang dipimpin langsung Wakapolri untuk memastikan kebenaran seperti yang diinginkan bersama.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa ini (polemik) dimulai dari komunikasi publik Polri yang kemudian menimbulkan spekulasi di masyarakat dan ujungnya ketidakpercayaan,” kata Ahmad Taufan Damanik, Selasa (26/7), sebagaimana yang dikutip radartegal.com dari disway.id.

Sementara itu, praktisi hukum, Syamsul Arifin mengatakan polisi sukses memberikan pernyataan-pernyataan yang mengundang tanya publik. Maka wajar opini liar publik makin membumi menjelang sebelum otopsi ulang Brigadir J disetujui.

Penggiringan motif pembunuhan berupa ‘pelecehan’ yang kabarnya diterima Putri Candrawathi istri Brigjen Pol Ferdy Sambo telah dimainkan. Pada titik ini polisi sukses bikin publik bingung. Motif asmara kian liar memenuhi isi pemberitaan.

“Peristiwa pembunuhan dan terbunuhnya seseorang itu lebih penting untuk dicari dan ditangkap dan tetapkan sebagai tersangka. Bukan lagi motifnya,” terang praktisi hukum Syamsul Arifin, kepada Disway.id, Selasa, 26 Juli 2022.

Ditambahkannya, jika benar acara tembak menembak dengan motif pelecehan seksual, maka yang masih hidup harus dijadikan dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Kemudian tersangka disidik, di-BAP. Dicari penyebabnya sampai tembak-menembak,” tandasnya.

Advokat ini pun menambahkan, saat ini pembunuh Brigadir J tidak atau belum ditetapkan sebagai tersangka. Korbannya belum diperiksa dan dimintai keterangan.

“Kok sibuk banget Kadiv Humas dan Karo Penmas menyebut berulangkali ini adalah kasus pelecehan seksual, lalu melang publik agar jangan berpendapat yang disebut spekulasi. Lucu sekali,” timpal Syamsul Arifin.

Tidak bisa dipungkiri, sambung Syamsul Arifin, masyarakat kini terjebak di antara penggiringan motif dan penetapan tersangka peristiwa pembunuhan Brigadir J. Sedangkan orang-orang yang menjadi saksi pembunuhan itu masih ‘bersembunyi’ di antara kekuatan yang dimiliki.

“Jika benar kasus ini bermotif pelecehan, mengapa korban tidak bicara. Saya rasa tidak cukup hanya meminta perlindungan dari LPSK. Toh LPSK juga minta perlindungan dengan polisi,” tandas Syamsul Arifin.

“Sampaikan kapan mau ditutupi. Sampaikan saja ke publik apa adanya. Ini soal kebenaran lho. Itu pun kalau benar ya. Kalau bohong wah gawat. Termasuk Irjen Pol Ferdy Sambo, harus pula berani keluar dan memberikan statement. Publik butuh juga pernyataannya yang lantang seperti video yang beredar sebelum dirinya dicopot,” timpalnya. (zul/rtc)

Baca Juga:

  • Terus Bertambah, Polisi yang Diamankan terkait Kasus Brigadir J di Tempat Khusus Jadi 19 Orang, Terperiksanya 63 Personel.
  • Diduga Menyimpang, Inspektorat Temukan Dugaan Penyelewengan Keuangan Desa di Kecamatan Ketanggungan Brebes.

Berita Terkait

Berita Terbaru