Polisi Kini Tegaskan Bharada E Tembak Mati Brigadir J Bukan untuk Membela Diri

Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E yang sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Brigadir J, ternyata menembak mati almarhum bukan untuk membela diri. Penegasan itu diungkapkan Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol Andi Rian Djajadi, Rabu (3/8) malam.

"Tadi sudah saya sampaikan Pasal 338 juncto 55 dan 56 KUHP. Jadi bukan bela diri," tegas Andi di Gedung Bareskrim Polri.

Pernyataan tegas Andi Rian Djajadi itu diucapkannya usai menetapkan Bharada E sebagai tersangka dalam insiden adu tembak yang menewaskan Brigadir J di rumah dinas Irjen Pol. Ferdy Sambo, Jumat (8/7) lalu.

Tak tanggung-tanggung, Bareskrim menetapkan Bharada E sebagai tersangka dengan sangkaan tiga pasal berlapis, yakni Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. "Menetapkan Bharada E sebagai tersangka dengan sangkaan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan 56 KUHP."

Andi Rian Djajadi menyebutkan, Bharada E ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus yang dilaporkan oleh kuasa hukum keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. "Jadi terkait laporan polisi oleh keluarga Brigadir Yosua," ujar Andi sebagaimana yang dikutip dari fin.co.id.

Andi Rian Djajadi menegaskan, dari hasil pemeriksaan 42 saksi, saksi ahli, uji balistik, forensik, dan kedokteran forensik termasuk penyitaan barang bukti sudah cukup untuk menetapkan Bharada E sebagai tersangka Pasal 338 tentang pembunuhan dan turut serta.

Kasus tewasnya Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif Irjen Ferdy Sambo di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan mulai menunjukkan titik terang. Ini setelah Bareskrim Polri menetapkan Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E sebagai tersangka.

Penyelidikan kasus yang menyita perhatian publik Tanah Air itu sendiri sangat alot. Buktinya baru di hari ke-25 dan autopsi ulang jenazah Brigadir J muncul tersangka dalam peristiwa berdarah itu.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Kemanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut peristiwa di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan itu bukanlah kriminal biasa.

“Maaf ini tidak sama dengan kriminal biasa, sehingga memang harus bersabar. Karena ada psiko hierarkial, ada juga psiko politisnya," kata Mahfud di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (3/8).

"Jadi kalau seperti itu secara teknis penyidikan, itu sebenarnya katanya gampang," lanjutnya.

Namun disisi lain, Mahfud MD mengapresiasi langkah yang telah diambil Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dengan membentuk tim khusus dan menonaktifkan Irjen Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam hingga melakukan autopsi ulang jasad Brigadir J.

Dengan tindakan Kapolri tersebut, kata Mahfud, masyarakat tinggal mengawal dan menunggu, karena Kapolri sudah melakukan langkah-langkah terbuka. "Jadi menurut saya Kapolri ini sudah melakukan langkah-langkah terbuka. Tinggal nanti pada akhirnya kita kawal semua," pinta Mahfud.

Menurut Mahfud, langkah-langkah pengusutan baku tembak antar ajudan Irjen Ferdy Sambo ini sesuai jalur alias on the track. Hanya saja, Mahfud menunggu siapa yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. (rmol/zul)

Baca Juga:

  • Terus Bertambah, Polisi yang Diamankan terkait Kasus Brigadir J di Tempat Khusus Jadi 19 Orang, Terperiksanya 63 Personel.
  • Diduga Menyimpang, Inspektorat Temukan Dugaan Penyelewengan Keuangan Desa di Kecamatan Ketanggungan Brebes.

Berita Terkait

Berita Terbaru