Prabowo Seharusnya Mundur sebagai Menteri Pertahanan, Pengamat: Partai Gerindra Kadung Tercoreng

JAKARTA - Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto masih belum berani menampakkan dirinya di hadapan publik, usai Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (25/11) lalu.

Padahal publik sudah menunggu-nunggu sikap Menteri Pertahanan itu, utamanya setelah Edhy Prabowo ditetapkan sebagai tersangka kasus ekspor benih lobster (benur). Toh, Edy yang dikenal dekat dengan Prabowo sudah menyatakan mundur dari partai berlambang burung garuda dan Kabinet Indonesia Maju.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai, Prabowo mempunyai kalkulasi politik jika kadernya yang menjadi Menteri di Kabinet Indonesia Maju jadi tersangka kasus korupsi.

Dedi melihat, seharusnya, Menteri Pertahanan (Menhan) itu mundur dari jabatannya, karena Partai Gerindra kadung tercoreng.

"Prabowo harus punya hitungan politis, ia tetap berada di kabinet tapi nama baik Gerindra jelas telah cedera. Keluar kabinet sekaligus menarik diri dari koalisi, akan membuat publik bersimpati," kata Dedi Kurnia saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Selasa (1/12).

Lebih lanjut, Dedi Kurnia memahami perasaan Prabowo Subianto yang masih merasa terpukul karena salah satu kader terbaiknya yang menjadi menteri pertama di Kabinet Indonesia Maju yang terjerat kasus korupsi.

Apalagi, Prabowo kerap bersuara lantang menyuarakan gerakan anti korupsi.

"Prabowo Subianto tentu sangat terpukul, selama ini ia keras menentang korupsi, dan ternyata Gerindra memegang rekor sebagai Parpol untuk pertama kalinya bergabung di kabinet, dan hanya berusia satu tahun, terjerat kasus korupsi," demikian Dedi Kurnia Syah. (rmol/zul)

Baca Juga:

  • Kapal Penarik Tongkang Tenggelam di Perairan Pemalang, Enam Awak Hilang.
  • Dijanjikan Jadi Model lalu Difoto Tanpa Busana, 10 ABG Dicabuli, Dua Orang Hamil.

Berita Terkait

Berita Terbaru