Pria Asal Cirebon Persunting Bule Cantik Jelita Asal Jerman, Sempat LDR Tujuh Bulan

CIREBON - Bekerja di sebuah Kapal Pesiar AIDA Cruise milik Jerman, sekitar tahun 2011/2012, mempertemukan Agus Setiawan dengan gadis pujaannya. Ya, pria asal Kesambi, Kota Cirebon itu, dengan susah payah, akhirnya bisa mempersunting gadis cantik nan jelita berkewarganegaraan Jerman bernama Viola.

Pertemuan Agus dan Viola, berawal di Kapal Pesiar AIDA Cruise. Saat mereka sama-sama bekerja di kapal mewah itu. Agus jadi housekeeper. Sementara Viola di bagian Spa & Sauna.

Mulanya, tak ada rasa ingin memiliki hubungan lebih. Hanya say hello di sela-sela bekerja. Namun seiring berjalannya waktu, mereka kerap makan siang bersama di dek untuk kru.

"Dari situ kami mulai ngobrol. Saya pun mulai suka dengan dia. Rasa ingin bertemu terus hadir," jelasnya kepada koran ini, kemarin.

Namun dalam masa penajajakan, Agus mengungkapkan kultur yang dimiliki Indonesia dan bule (Jerman) sangat berbeda. Dalam budaya Jerman, tak biasa mengungkapkan rasa sayang secara langsung, saat baru berkenalan.

Sikap terbuka Viola, menjadi hal yang sulit untuk membedakan apakah dia benar suka atau karena faktor pertemanan saja. Dari situ, Agus pun tak langsung menyatakan cinta.

Di masa pendekatannya, Viola yang memang menjadi primadona pun menjadi rebutan banyak kru dari berbagai negara. "Tak jarang, saat saya sedang ngobrol dengan Viola, ada saja kru lain yang ikut nimbrung. Namun ternyata Viola memberikan perhatian lebih untuk saya. Sehingga kami sering kali pulang bareng," ungkapnya.

Setelah dekat selama kurang lebih tiga bulan, Viola pun mengungkapkan akan berhenti bekerja dari kapal. Kekhawatiran Agus tak bisa kembali bertemu dan mengatakan rasa sayang pun, mulai muncul saat mendengar kabar tersebut.

Tak mau terlambat, Agus pun mengungkapkan rasa sukanya pada perempuan yang ia cintai itu. Gayung bersambut. Viola menerima cinta Agus. Saat itu, keduanya mulai menjalani hubungan yang lebih terikat dari sebelumnya.

Namun, karena kontrak kerja yang berbeda, membuat keduanya harus menjalani hubungan jarak jauh (LDR). "Di situ saya sempat LDR selama kurang lebih 7 bulan," terangnya.

Setelah itu, Agus mulai bertemu lagi di sela liburannya. Namun usai liburan, keduanya kembali sulit bertemu lantaran kontrak kerja yang berbeda. Akhirnya, satu-satunya cara untuk bertemu dengan Viola, menjadi tamu di kapal pesiar tempat bekerja Agus.

"Waktu itu di middle east kami bertemu lagi," ungkapnya.

Dari situ, Agus mendapatkan libur yang cukup panjang. Kemudian, dia memboyong Viola untuk pertama kalinya ke Cirebon. Membawa Viola hadir ke kampung halamannya yang beralamat di daerah Kesambi, membuat orang tua dan warga sekitar heboh.

Sang ibu bangga karena sang anak bisa menghadirkan calon menantu dari luar negeri. Sementara Viola yang pertama kali mengunjungi Indonesia, memilki kesan yang baik.

Mendapatkan perlakuan yang ramah, ia juga terkesan dengan sarapan bubur kacang dan es jeruk yang ia dapati di Cirebon. "Ia mencoba naik becak, mengenakan baju adat, dan sempat kaget dengan tatanan rias yang digunakan saat memakai baju adat," ujarnya.

Dari kunjungan Viola tersebut, bukan hanya budaya yang membuatnya terkesan. Namun juga perkenalannya dengan keluarga Agus. Pasalnya, agus adalah tulang punggung keluarga yang telah ditinggal ayahnya meninggal dan harus membiaya ibu dan keenam adiknya.

Sedangkan di Jerman sendiri, kulturnya untuk usia 18 tahun sudah harus mandiri dan tidak memiliki beban menghidupi keluarga. "Sistem yang berbeda tersebut ternyata membuat Viola sangat bangga pada saya. Dan dari situ, dia lebih serius dengan hubungan kami," bebernya.

Sebelum menjadi awak kapal pesiar, Agus pernah memiliki toko emas dan benda antik semasa ia sekolah. Namun gulung tikar. Dari situ, siswa lulusan SMK Mandiri ini pun sempat menjadi pegawai salah satu hotel di Qatar.

Kondisi finansial, tentu menjadi salah satu yang ia pikirkan saat hendak melangkah ke pelaminan. Karena, semasa bekerja pun, Agus belum bisa sepenuhnya menabung untuk membiayai dan membangun rumah tangganya. Tetapi, dia terlebih dahulu menghidupi ibu dan adik-adiknya.

"Selama saya bekerja, saya juga lunasi dahulu utang-utang orangtua. Sehingga, saya belum memiliki tabungan untuk meminang Viola pada saat itu," terang pria yang saat ini memiliki buah hati bernama Theo itu.

Kemudian, Agus terus terang dan terbuka dengan Viola. Dan ternyata, Viola sangat menerima keadaannya dan bangga dengan Agus.

Tak hanya sampai di situ, permasalahan perbedaan agama menjadi perdebatan antar keduanya. Mereka sama-sama menyadari hal tersebut tidak bisa berjalan di Indonesia. Meskipun pernikahan beda agama tak menjadi sebuah permasalahan di Jerman sana.

"Dari situ, Viola mulai sedikit goyah. Dia sempat hilang kabar. Karena saya juga menekankan pada dia bahwa saya tidak bisa mengorbankan agama saya dan tak mau Viola mengorbankan agamanya," ungkapnya.

Sama-sama menerima keputusan untuk tak saling mengubah keyakinan. Keduanya pun mulai mengurus surat-surat kebutuhan administratif untuk melakukan pernikahan di Jerman. Sudah hampir rampung, lalu keduanya mulai mengurusi tiket keberangkatan ke Jerman.

Namun sayang, ternyata ada satu dokumen dari kedutaan yang sulit didapatkan. Dan tak bisa diperoleh pada hari yang ditentukan. "Di situ, pernikahan kami pun dibatalkan. Ditunda untuk sementara waktu, karena dokumen kurang lengkap," terangnya.

Dengan sulitnya mendapatkan dokumen untuk melangsungkan pernikahan beda agama, akhirnya di tahun 2016 Viola memutuskan untuk pindah ke agama Islam di Masjid Raya At-Taqwa.

Pernikahan pun kemudian dilangsungkan di kediaman Agus dengan sederhana. Setelah itu, keduanya kembali ke Jerman. Namun kendala administratif kembali dialami Agus. Seperti visa. Terpaksa di kehamilan muda isterinya itu, Agus tak bisa menemani karena harus menunggu visa.

"Saya baru bisa menemani Viola di usia kehamilan 7 bulan," ungkapnya.

Bahkan sampai usia sang anak mencapai 2 tahun, Agus masih harus kembali ke Indonesia karena masa visa yang habis dan kembali menunggu pengurusan visa.

Di sisi lain, saat pertama tinggal di Jerman, bukan hal yang mudah. Selain adaptasi dengan cuaca dan makanan, Agus juga harus beradaptasi dengan budaya di sana.

Untuk mendapatkan pekerjaan, juga menjadi tantangan sendiri bagi Agus. Pasalnya, untuk bekerja di sana, harus memiliki sertifikasi Jerman. Akhirnya, dia memilih sekolah bahasa selama satu tahun.

Setelah itu, ia pun memutuskan mulai mencari pekerjaan dengan tambahan bekal pengalaman bekerja di kapal pesiar selama 8 tahun. Dan, akhirnya dia diterima bekerja di sebuah hotel.

"Selama belum mendapatkan pekerjaan, saya juga dibantu oleh pemerintah. Tapi untuk biaya hidup sendiri saja. Saat sudah dapat pekerjaan, tentu saya wajib membayar pajak yang cukup tinggi di sini. Kisarannya 30-50% dari pendapatan yang saya peroleh," paparnya.

Di samping itu, bahasa memang menjadi salah satu tantangan dalam menjalin hubungan dan membangun komunikasi. Hingga saat ini, Agus masih menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan Viola.

Di masa Agus belajar bahasa Jerman untuk mendapatkan pekerjaan, ia pun mengisi kekosongan waktunya dengan membuat konten youtube. Pada saat itu, Agus yang merupakan seorang perokok, ingin mengubah kebiasaannya ke rokok elektrik (vape).

Selain karena harga rokok yang mahal, ia juga ingin membuat liquid sendiri yang lebih hemat dan ramah lingkungan. "Saya pun mulai membuat video review gadget dan liquid di youtube," terangnya.

Namun saat itu, viewers-nya belum banyak. Viola sempat protes akan pembuatan kontennya tersebut. Sampai akhirnya, ia mengajak Viola untuk mengcover lagu-lagu bahasa Indonesia. Viola merasa senang dan fun saat membuat video.

Pasalnya, dia juga bisa sekaligus belajar bahasa Indonesia. Karena melakukan opening dengan bahasa Indonesia. Sehingga memaksanya untuk menerjemahkan Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia.

Saat Viola mulai aktif membuat konten bersama Agus, viewers youtube-nya perlahan naik. "Saya kaget, kok tiba-tiba banyak yang nonton. Akhirnya saya lebih sering buat video cover dan lainnya sama Viola. Namun saat itu, belum di monetize," tuturnya.

Sadar akan potensi pundi-pundi baru, akhirnya dia mulai membuat vlog karena banyak viewers yang memnita juga. Dari situ, hingga saat ini, dia kerap membuat berbagai konten vlog di youtube bersama keluarga kecilnya tersebut.

Agus pun berpesan saat akan menjalankan hubungan beda kewarganegaraan, harus bisa lebih terbuka dan siap beradaptasi dengan suasana yang baru. Sehingga tidak gampang kaget dan menyerah. (apr/zul)

Baca Juga:

  • Bupati Tegal Pecat Kades Sumbarang.
  • Bukan Cuma Pembunuh, Pelaku Mutilasi Kalibata City Ternyata Pelakor #AkuMensJanganSentuhAkuYa.

Berita Terbaru