Sembilan Negara Sudah Deteksi 128 Kasus Varian Omicron

JAKARTA - Varian baru COVID-19 jenis Omicron (B.1.1.529) sudah terdeteksi muncul di sembilan negara sebanyak 128 kasus. Meski begitu, masyarakat diminta tidak perlu panik atas kemunculannya.

"Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan selalu berbasis data. Jadi kita lihat kasus konfirmasi positif Omicron di sembilan negara jumlahnya 128 kasus," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Minggu (28/11).

Menurutnya, kasus Omicron diduga juga muncul di empat negara lain. Saat ini kasus tersebut dalam penelitian pakar virologi. "Masih mungkin ada empat negara lainnya. Total ada 13 negara. Sebanyak sembilan sudah pasti ada. Empat negara masih kemungkinan ada," jelasnya.

Negara yang dimaksud di antaranya Afrika Selatan, Botswana, Inggris, Hongkong, Australia, Italia, Israel, Belgia, Republik Ceko, Belanda, Jerman, Denmark dan Austria.

"Negara paling banyak mendeteksi Omicron di Afrika Selatan, Botswana, Inggris, Hongkong dan Australia," urainya.

Sejumlah negara yang paling berisiko mengantar importasi kasus Omicron ke Indonesia di antaranya Hongkong, Itali, Inggris dan Afrika Selatan. Sebab paling banyak memiliki jadwal penerbangan menuju Indonesia.

"Untuk negara-negara yang kemungkinan ada kasus terkonfirmasi Omicron paling besar dari Belanda, Jerman," tukasnya.

Dikatakan, kemampuan jaringan laboratorium di dunia sudah mampu untuk melihat penyebaran varian baru di dunia. Sehingga dapat mengidentifikasi serta merespons kebijakan dengan cepat.

Kebijakan pengetatan bagi pelaku perjalanan internasional juga dilakukan Indonesia pada daerah yang berbatasan dengan pelabuhan, bandar udara dan jalur darat.

"Karena pengalaman di Delta justru masuknya dari laut. Kita jaga di sana. Kita akan pastikan semua kantor karantina pelabuhan, udara, laut dan darat bekerja dengan keras," pungkasnya. (rh/zul)

Baca Juga:

  • Arteria Dahlan Pernah Protes karena Tidak Dipanggil Yang Terhormat, Netizen: Saking Angkuhnya.
  • Arteria Dahlan Ternyata Lulusan Tanah Sunda, Prof Romli Atmasasmita: Rasa Malumu di Mana?.

Berita Terkait

Berita Terbaru