Sidak ke Bendungan Dukuhjati Kidul, Pinwan Bongkar Penyebab Banjir di Kabupaten Tegal

SLAWI - Pimpinan dan beberapa anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal sidak ke bendungan di Desa Dukuhjati Kidul Kecamatan Pangkah. Mereka membongkar penyebab banjir yang melanda di 5 kecamatan termasuk di wilayah pantura.

Wakil ketua DPRD Kabupaten Tegal Rudi Indrayani, Kamis (25/11) mengatakan, penyebab
banjir ini diketahui setelah beberapa pimpinan dewan (pinwan) dan anggota Komisi melakukan sidak ke pengelola Waduk Cacaban di Desa Karanganyar Kecamatan Kedungbanteng.

"Saya bersama Agus Solichin serta anggota Komisi IV, Bintang Adi Prajamukti dan Kepala UPTD Pariwisata Waduk Cacaban Achmad Abdul Khasib sidak ke lokasi," katanya.

Dalam sidak tersebut, tambah Rudi, rombongan mengunjungi Bendung Dukuhjati Kidul di Kecamatan Pangkah. Disinyalir, penyebab banjir di wilayah pantura itu gegara pintu air di Bendung Dukuhjati Kidul dibuka. Sehingga air mengalir ke pantura melalui Sungai Cacaban.

Dalam kunjungannya itu, para pimpinan dewan meminta penjelasan kepada Koordinator Bendungan Cacaban Kuswandi ihwal kewenangan buka tutup pintu air. Menurut Kuswandi, ketika hujan besar pada Senin (22/11) lalu, pintu air Waduk Cacaban tidak dibuka sama sekali. Hal itu karena pintu air tengah diperbaiki, sehingga tidak bisa dibuka.

Dalam diskusi itu, dimungkinkan ada pintu air yang dibuka yakni di Bendung Dukuhjati Kidul yang menyebabkan air besar mengalir di Sungai Cacaban. Setelah mendapat informasi itu, pimpinan DPRD ini menelusuri ke Bendung Dukuhjati.

Lokasi bendung itu cukup jauh. Para wakil ketua DPRD dan anggota Komisi IV ini rela berjalan kaki dengan menempuh jarak sekitar 2 kilometer melewati bantaran sungai.

Usai bertemu dengan Penjaga Pintu Bendung Dukuhjati Minar, akhirnya terbongkar semua penyebab banjir di wilayah Kecamatan Warureja, Suradadi, Kramat, Kedungbanteng, dan Adiwerna. Ternyata debit air sangat besar, sehingga pintu air dibuka yang menyebabkan wilayah pantura kebanjiran.

Namun jika tidak dibuka maka daerah hulu, yakni Dukuhjati dan Pesurungan juga kebanjiran. Diketahui ada lahan Bendung Dukuhjati seluas 19 hektare yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian. Padahal, lahan itu merupakan daerah penampung air bendung. Hal itu dinilai yang menjadi penyebab air tidak bisa tertampung dan langsung menggelontor di Sungai Cacaban. Imbasnya, wilayah pantura kebanjiran dan merendam ratusan rumah warga.

"Lahan itu berada di tiga desa dan dimanfaatkan oleh warga di tiga desa tersebut, yakni Dukuhjati Kidul, Penujah dan Karanganyar,” tambahnya.

Sementara itu, wakil ketua DPRD Kabupaten Tegal lainnya, Agus Solichin menilai bahwa alih fungsi lahan itu diduga ada pembiaran. BBWS Pemali-Juwana harusnya bisa menertibkan lahan tersebut, sehingga air tidak bisa tertampung di Bendung Dukuhjati.

"Sedimentasi tinggi, harus segera dinormalisasi. Jika tidak, maka banjir akan terus melanda wilayah Kabupaten Tegal," ucapnya. (guh/ima)

Baca Juga:

  • Novia Widyasari yang Diduga Bunuh Diri Sudah 2 Kali Dihamili Polisi Pacarnya dan 2 Kali Diaborsi.
  • Prihatin Wali Kota Portal Alun-alun, Warga: Kita Ingin Tak Ada Egoisme dan Arogansi Kekuasaan.

Berita Terkait

Berita Terbaru