Sindir Mahasiswi Berjilbab sebagai Manusia Gurun, Rektor ITM Budi Santosa Diduga Rasis

JAKARTA - Artikel yang ditulis Rektor Institut Teknologi Kalimantan, Budi Santosa Purwokartiko tiba-tiba viral di media sosial. Pasalnya, dalam artikelnya di akun Facebooknya itu, Budi Santosa dianggap menyindir wanita berjilbab sebagai manusia gurun.

Pada artikel yang ditulis 27 April itu, Budi Santosa awalnya mengakui mewawancarai beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri.

Menurut Budi, mereka adalah mahasiswa dari program Dikti yang dibiayai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dikatakan pula bahwa para mahasiswa itu tidak hobi demo.

"Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8 dan 3.9," katanya.

Dia mengatakan, para mahasiswa ini tidak pernah berbicara soal agama. Seperti kehidupan setelah mati.

"Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa Cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dsb," tulis rektor.

"Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit:insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dsb," sindir Rektor.

Kemudian pada paragraf berikutnya, dia menyebut para mahasiswa ini tidak mengenakan kerudung atau jilbab. Dia menyindir kerudung dan jilbab sebagai pakaian manusia gurun.

"Mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar openmind," katanya.

"Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi," tuturnya lagi.

Artikel itu mendapat kecaman luas di media sosial. Sang rektor disebut rasis dan tidak pancasilais.

"Ada Rektor sebuah PTN yg bersikap rasis dan xenofobik. Merasa dirinya paling Pancasila, paling nasionalis. Padahal Bung Karno saja dalam pidato 1 Juni 1945 mengutip Gandhi: "My nationalitsm is humanity." Nasionalisme Indonesia berwawasan kemanusiaan, menjunjung HAM dan demokrasi," kecam Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Aidul Fitriciada di akun Twitter-nya @AidulFa.

Demikian juga kecaman datang dari pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi.

"Tulisan Prof Budi Santosa Purwokartiko ini bisa masuk kategori "rasis" dan "xenophobic". Rasis: pembedaan berdasarkan ras (manusia gurun, Arab)," kata Ismail.

"Xenophobic: benci pada orang asing (manusia gurun). Saya kira beliau contoh korban "firehose of kadrunisasi," tuturnya. (fin/zul)

Baca Juga:

  • Ada Pergerakan 20 Pasukan di Luar Kendali Dukung Sambo, Ketua IPW: Brimob Sampai Tak Ingin Bentrok.
  • Tabungan Brigadir J Diduga Dikuras Salah Seorang Tersangka Pembunuhnya, Pengacara Keluarga: Orang Mati Kirim Duit.

Berita Terkait

Berita Terbaru