Sindir Presiden Jokowi, Mantan Dubes Australia: ke Ukraina dan Rusia untuk Urusan Mie Instan

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diyakini tidak membawa misi damai untuk Ukraina dan Rusia pada kunjungan kenegaraannya pekan lalu. Keyakinan itu diungkapkan David Engel, mantan duta besar Australia untuk Meksiko, Amerika Tengah, dan Karibia.

Menurut David Engel, Jokowi melihat peperangan yang terjadi antara Ukraina dan Rusia menyebabkan gangguan pasokan pangan ke Indonesia. Di Indonesia, dia menilai, sejumlah aksi protes di jalanan atas kenaikan harga pangan kemungkinan akan terjadi.

“Semakin lama perang dan gangguan yang dihasilkan dalam ekspor gandum dan minyak bunga matahari Ukraina bertahan, semakin tinggi risiko lonjakan harga pangan, yang secara historis telah memicu kerusuhan politik di nusantara,” tulis David Engel di The Strategis yang dikutip, Senin (4/7).

Itulah sebabnya untuk meyakinkan rakyat Indonesia, Jokowi melakukan kunjungan ke Ukraina dan Rusia untuk mengatasi masalah tersebut.

"(Dia) pergi ke ibu kota sumber impor itu dan sarang orang yang memblokirnya, dia setidaknya dapat memberi tahu warganya bahwa dia telah melakukan segala daya untuk meringankan beban mereka,” kata David.

Dia menilai, misi Jokowi bukan untuk membawa kedamaian dua negara yang bertikai, Jokowi hanya bertemu Ukraina dan Rusia untuk urusan Mie instan. Sebab Indonesia salah satu negara yang sangat bergantung kepada pasokan gandum Ukraina untuk kebutuhan produksi mie instan.

“Oleh karena itu, bagi sebagian orang, misi Widodo ke Moskow mungkin akan memunculkan kenangan tentang idealisme Hatta saat ia membentuk identitas baru yang mengagumkan untuk sebuah bangsa dan rakyat yang sampai sekarang menjadi korban kolonialisme Barat selama ketegangan Perang Dingin. Tetapi bagi yang lain, ini setidaknya tentang mie,” tutup David Engel.

Sebelumnya Kantor Presiden Ukraina membantah klaim Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengaku telah membawa pesan dari Presiden Volodymyr Zelenskyy ke Vladimir Putin.

Sebelumnya, Sekretaris Kantor Presiden Ukraina, Serhii Nikiforov Volodymyr mengatakan, jika Volodymyr Zelenskyy ingin sampaikan pesan ke Putin, dia akan melakukannya secara terbuka di media. Tidak melalui perantara.

"Jika Presiden Volodymyr Zelenskyy ingin mengatakan sesuatu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, dia akan melakukannya secara terbuka, dalam pidato hariannya," kata Serhii Nikiforov kepada media lokal, Pravda, dikutip Ahad 3 Juli 2022.

Dia mengatakan bahwa fokus utama pembicaraan antara Jokowi dan Zelenskyy adalah terkait importir. Mereka tidak berbicara terkat solusi perdamaian.

"Indonesia adalah salah satu importir gandum terbesar dari Ukraina, dan blokade pelabuhan Ukraina adalah fokus utama pembicaraan antara presiden Indonesia dan Ukraina di Kyiv," katanya.

Serhii Nikiforov menjelaskan bahwa Rusia memikul tanggung jawab penuh atas gangguan ekspor gandum Ukraina ke Indonesia, serta ke bagian lain dunia. "Dan Rusia akan bertanggung jawab atas krisis pangan yang bisa terjadi kecuali pelabuhan Ukraina segera diblokir," ungkap Serhii.

"Inilah yang dibahas secara detail oleh Volodymyr Zelenskyy dengan Joko Widodo," pungkasnya. (fin/zul)

Baca Juga:

  • Semua Polisi yang Halangi Penyidikan Tewasnya Brigadir J Bisa Dipidana, Kompolnas: Mohon Sabar.
  • Sadis! Senjata Brigadir J Disebut Dipakai Pelaku Lain untuk Buat Alibi Baku Tembak.

Berita Terkait

Berita Terbaru