Tak Punya Uang untuk Makan, Remaja Nekat Curi HP, Dibebaskan Setelah Dua Bulan Ditahan

TANGERANG - Kasus pencurian handphone (HP) seharga Rp3,2 juta yang dilakukan AS (20), akhirnya dihentikan penuntutannya oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang, Banten melalui restorative justice.

Restorative justice dilakukan sebagai penyelesaian kasus pidana pencurian, setelah korban pencurian memberi maaf kepada tersangka dan sepakat berdamai.Selain itu, juga karena tersangka baru kali pertama melakukan tindak pidana.

Hal tersebut tercantum dalam surat ketetapan penghentian penuntutan melalui restorative justice.

"Dan ancaman pidana tidak lebih dari 5 tahun, korban juga sudah memberi maaf atas apa yang dilakukan tersangka terhadap korban," kata Kajari Kabupaten Tangerang Nova Eliza Saragih saat membacakan surat ketetapan penghentian penuntutan, Rabu (22/6).

Nova menjelaskan penghentian penuntutan kasus pidana pencurian tersebut didasarkan pada peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Ia melanjutkan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi misalnya, tersangka baru kali pertama melakukan tindak pidana. Kemudian, ancaman hukuman tidak melebihi 5 tahun. Ketiga, nilai kerugian tidak melebihi Rp2,5 juta.

"Namun berdasarkan surat edaran Jampidum Nomor 1 Tahun 2022, bahwa ketiga syarat ini dapat disimpangi dengan syarat-syarat tertentu," jelasnya

Maka dari itu, sambung Nova, kerugian kasus pidana pencurian handphone merk Realme yang mencapai Rp3,2 juta itu bisa disimpangi. Terlebih, dalam proses perdamaian itu pihak korban sudah memberikan maaf.

Proses perdamaian dilakukan 17 Juni lalu di Rumah Restorative Justice, yang disaksikan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan keluarga tersangka. "Dengan dasar perdamaian itulah maka kita mengajukan permohonan restorative justice kepada Kejagung," terangnya

"Dan Alhamdulillah tadi pagi melalui Jampidum permohonan penghentian penuntutan yang kami ajukan diterima," tukasnya

Sementara usai dinyatakan bebas AS mengaku menyesali perbuatannya. Dia juga menangis sambil memeluk korban seraya berterima kasih karena sudah dimaafkan.

Kepada wartawan, AS mengaku gelap mata hingga akhirnya nekat mencuri ponsel milik korban lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. Dia bercerita, kejadian bermula ketika dirinya yang tinggal di Jakarta pergi ke rumah saudaranya di Serang, Banten, untuk mencari pinjaman uang dengan sepeda motor.

Akan tetapi, meski sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, AS harus pulang dengan tangan hampa lantaran saudaranya juga tak punya uang.

"Kemudian saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta, tapi ketika sampai di daerah Cikupa motor saya habis bensin, saya bingung harus gimana, karena saya tidak punya uang," tuturnya.

Dalam keadaan terdesak dia melihat sebuah ponsel yang tergeletak di etalase di sebuah toko sembako. Tanpa pikir panjang, dia pun mencoba mencuri handphone milik korban.

"Karena terdesak kebutuhan ekonomi, saya juga harus bayar kontrakan juga, ingin bayar uang masuk kuliah, lalu saya terpikir untuk mencuri handphone itu," paparnya.

Namun nahas, aksinya dipergoki oleh korban hingga akhirnya dia diamankan ke Mapolsek Cikupa, Tangerang. "Di situ saya tertangkap oleh korban dan saya langsung dilaporkan ke pihak kepolisian," ujarnya.

Dikatakan AS, sebelum akhirnya dibebaskan dirinya ditahan oleh pihak berwajib kurang lebih selama dua bulan di Polsek Cikupa. Dia juga mengaku sangat menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya.

Terlebih, dia hanya tinggal berdua bersama sang ibu, setelah ayahnya meninggal dunia beberapa tahun lalu. "Kalau bukan saya siapa yang mau menjaga ibu saya, karena saya juga sebagai tulang punggung bagi ibu saya," pungkasnya. (fin/zul)

Baca Juga:

  • Heboh! Ada Jatah Haji untuk Pejabat Kemenag, Anggota DPR, dan Ormas Islam.
  • Diserang Simpatisan Tersangka Pencabulan yang Juga Anak Kiai, Seorang Polisi Terluka.

Berita Terkait

Berita Terbaru