Telur dan Minyak Goreng Masih Mahal, Kini Giliran Tahu-Tempe yang Akan Naik Harga

JAKARTA - Harga kacang kedelai impor, Rabu (12/1) lalu, naik 0,8 persen menjadi Rp12.500 per kilogram (kg) dibandingkan hari sebelumnya. Hal itu tercatat dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP).

Dekan Fakultas Pertanian UGM Jamhari mengatakan impor kedelai merupakan masalah jangka panjang yang membutuhkan solusi. Sebab, ketika harga kedelai naik, imbasnya juga akan terasa pada industri pembuatan tahu dan tempe.

"Harga Kedelai dunia sedang naik. Otomatis bakal berpengaruh ke tahu dan tempe," kata Jamhari, seperti dikutip dari keterangan resmi UGM, Kamis 13 Januari 2022.

Dalam memecahkan masalah itu, Jamhari mengusulkan untuk mengembangkan komoditas lokal pengganti kedelai serta berupaya meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.

"Untuk membuat tempe tidak harus kedelai. Ada kacang-kacangan lain seperti kacang koro yang cukup bagus untuk dikembangkan di daerah tropis seperti Indonesia untuk menggantikan kedelai impor," terangnya.

Jamhari menjelaskan, kedelai sebetulnya merupakan tanaman yang secara alami dapat berproduksi secara optimal di daerah subtropis. Maka tak heran produktivitas kedelai di Indonesia tidak sebaik negara produsen utama.

"Walau beberapa varietas kedelai di Indonesia memiliki potensi produksi yang cukup tinggi, namun sejauh ini masih terdapat kesenjangan antara produksi potensial dan produksi riil," tuturnya.

Menurut Jamhari, salah satu penyebab rendahnya produksi kedelai di Indonesia adalah karena minimnya lahan pertanian. Solusi jangka pendeknya, ialah mengintegrasikan pertanian kedelai dengan perkebunan dan hutan tanaman.

"Secara umum, Indonesia menghadapi keterbatasan lahan untuk pangan. Termasuk kedelai yang produksinya oleh petani kecil yang kekurangan lahan, bukan dari perusahaan besar," kata Jamhari.

Di sisi lain, lanjut Jamhari, pengembangan industri produk substitusi dapat menjadi solusi jangka panjang jika disikapi secara serius oleh pihak terkait, termasuk pemerintah dan pelaku industri.

Misalnya, varietas seperti kacang koro belum mencapai produktivitas yang maksimal karena kurangnya keseriusan dalam mengembangkan substitusi kedelai impor dari pihak-pihak tersebut.

"Ujung tombak upaya ini harus terletak pada mereka yang memiliki sumber daya teknologi dan kemampuan untuk mengembangkan produk pertanian yang sesuai dengan iklim Indonesia," pungkasnya. (der/zul)

Baca Juga:

  • UUD 1945 Bukan Diamandemen, Profesor UGM: Sistem Hukum Indonesia Sudah Murtad dari Pancasila.
  • Tagar #TangkapEdyMulyadi Viral, Jubir PKS: Pernyataannya Tak Ada Sangkut Pautnya dengan PKS.

Berita Terbaru