Terdampak Sentimen Suku Bunga The Fed, IHSG Diprediksi Melemah Tipis Pekan Depan

JAKARTA - Akhir pekan depan, Jumat (14/1) mendatang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melemah tipis. IHSG masih tertekan oleh efek risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang mempercepat kenaikan suku bunga acuan.

Direktur Equator Swarna Investama, Hans Kwee mengatakan bahwa cenderung naiknya yield obligasi AS dan indeks dolar AS semakin besar dan berpotensi membuat IHSG terdepresiasi pada pekan depan.

"Terutama setelah The Fed berpotensi menaikan suku bunga lebih cepat dan rencana pengurangan balance sheet The Fed menjadi sentimen utama pasar," kata Hans di Jakarta, Minggu, 9 Januari 2022.

Para Pejabat The Fed sepakat untuk meningkatkan suku bunga acuan (fed fund rate) lebih cepat dari perkiraan. Adapun waktu kenaikan suku bunga dana The Fed diperkirakan bergerak lebih awal yakni pada Maret 2022, dari sebelumnya Kuartal I-2023.

Keputusan ini diambil mengingat pemulihan ekonomi AS yang terus terjadi tetapi diikuti dengan kenaikan inflasi yang tinggi. Peserta rapat umumnya mencatat bahwa, mengingat pandangan masing-masing untuk ekonomi, pasar tenaga kerja, dan inflasi.

"Mungkin diperlukan untuk meningkatkan suku bunga dana federal (fed funds) lebih cepat atau lebih cepat daripada yang diantisipasi para peserta sebelumnya," kata The Fed dalam risalah pertemuan 14-15 Desember 2021 yang dirilis, Kamis (6/1) lalu.

Selain itu, data ketenagakerjaan AS yang terbaru juga kurang begitu meyakinkan. "Ini berdampak kurang bagus bagi emerging market seperti Indonesia," ujarHans.

Jumlah warga AS yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran naik untuk periode minggu lalu. Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan klaim awal untuk tunjangan pengangguran negara meningkat 7.000 menjadi 207.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 1 Januari 2022. Sementara pada minggu sebelumnya, klaim turun menjadi 200.000.

Selain itu, laporan yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan nonfarm payroll meningkat 199.000 pada Desember 2021. Capaian ini di bawah ekspektasi peningkatan 400.000. Sedangkan tingkat pengangguran turun 0,3% menjadi 3,9%.

Data pekerjaan AS yang mengecewakan mendukung pengetatan kebijakan moneter secara agresif oleh Federal Reserve. Suku bunga The Fed kemungkinan akan ditingkatkan dalam waktu dekat.

"Kemungkinan Maret 2022," tutur Hans.

Hans menambahkan IHSG cenderung terkoreksi dan ada potensi rotasi sektoral. IHSG pada pekan depan kemungkinan terkonsolidasi melemah dengan support di level 6,647 sampai 6,593 dan resistance di level 6,712 sampai 6,754.

"Tapi pelemahan minggu depan akan tipis, karena kekhawatiran akan varian omicron Covid-19 sudah mereda," ujar Hans.

Di sisi lain pelarangan kebijakan ekspor batubara berdampak negatif terhadap terhadap IHSG . Pasar mengkhawatirkan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

"Tetapi kebijakan pemerintah Indonesia ini bisa memicu kenaikan harga batubara dunia, sehingga harga saham emiten batubara justru bisa naik," pungkas Hans. (git/zul)

Baca Juga:

  • UUD 1945 Bukan Diamandemen, Profesor UGM: Sistem Hukum Indonesia Sudah Murtad dari Pancasila.
  • Tagar #TangkapEdyMulyadi Viral, Jubir PKS: Pernyataannya Tak Ada Sangkut Pautnya dengan PKS.

Berita Terbaru