Terjun ke Jurang dan Tewaskan 29 Penumpangnya, Ternyata Kanvas Rem Bus Overheat

JAKARTA - Dugaan awal penyebab kecelakaan maut Bus Pariwisata Sri Padma Kencana di Kecamatan Wado, Sumedang, Jawa Barat mulai terkuak. Salah satunya adalah kanvas rem yang overheat.

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Achmad Wildan menjelaskan, tragedi di jurang Cae Sumedang, Rabu (10/3) malam, akibat terjadi brakefading atau kampas rem yang overheat. Suhu mobil mengalami kenaikan yang tidak normal.

Brakefading terjadi karena saat melintasi turunan panjang pengemudi tidak menggunakan rem pembantu atau engine brake dan exhaust brake. Namun mengandalkan rem utama (rem pedal) untuk mengurangi kecepatan.

"Hal ini yang menyebabkan kampas mengalami panas berlebih sehingga koefisien geseknya menurun drastis dan tidak mampu menahan putaran tromol," ujarnya saat dihubungi, Senin (15/3).

Secara garis besar, dia menjelaskan, hasil investigasi KNKT ada lima temuan yang dapat dijadikan acuan sementara penyebab kecelakaan.

Temuan pertama, yaitu roda sumbu belakang terkunci, karena hand brake ditarik. Pada sistem pengereman Full Air Brake (FAB) ketika hand brake ditarik, seharusnya gardan belakang akan mengunci dan menjadi emergency brake.

Sehingga bisa menahan laju bus jika kampasnya tidak mengalami overheat.

"Saya gerakkan roda tidak berputar sama sekali. Tapi anehnya tidak ada jejak pengereman pada jalan maupun ban. Karena ketika hand brake mobil FAB ditarik seharusnya sumbu kedua mengunci dan pasti akan terjadi gesekan hebat dengan aspal," katanya.

Dikatakannya, saat kecelakaan kampas rem bus panas sehingga koefisien geseknya rendah dan tidak mampu menahan tromol.

"Saya juga menemukan kampasnya habis. Seperti dipaksa bekerja untuk ngerem. Pada kondisi dingin sekitar jam 5 pagi sistem rem bekerja, mengunci, artinya tidak ada masalah sebenernya dengan sistem pengereman," ungkapnya.

Dilanjutkannya, untuk temuan kedua, pada roda depan, terdapat jejak pengereman hebat. Saat tromol bus dibuka terjadi residual atau perbedaan permukaan kampas.

"Coba dibuka tromolnya pasti ada semacam residual, dan permukaan kampasnya tidak rata. Itu tanda atau jejak brakefading," ujarnya.

Untuk temuan ketiga, sopir tidak menggunakan exhaust brake dan engine brake atau rem bantuan sehingga hanya mengandalkan rem utama.

“Saat rem utama digunakan secara maksimal, risiko kampas overheat sangat tinggi. Jika melampaui suhu 300 derajat celsius, maka terjadi brake fading di mana kampas melekat ke tromol namun tromol tetap berputar,” ucapnya.

Temuan keempat KNKT dalam kasus tersebut yaitu jejak skidmark atau tanda/garis selip cukup dalam. Namun, bukan terjadi di roda bus, tetapi di spring bagian belakang.

"Dan di sana (spring) masih ada bekas goresan aspal. Berarti skidmark itu menandakan saat pengemudi menurunkan handbrake, karena spring itu akan turun ke bawah saat handbrake ditarik," ujarnya.

Terakhir dari data GPS, KNKT menemukan ada perubahan kecepatan dari 50 kilometer/jam ke 85 kilometer/jam dalam tempo 30 detik sebelum akhirnya kembali ke kilometer nol.

"Ini sesuai dengan keterangan penumpang bahwa mereka merasakan bus oleng tak terkendali sekira 3 atau 4 tikungan sebelum masuk jurang, dan semua penumpang bertakbir. Nah, pada detik itulah pengemudi memasukkan gigi ke netral," katanya. (gw/zul)

Baca Juga:

  • Brigadir Joshua 2 Kali Bertengkar dengan Bripka RR di Magelang dan Jakarta, Sebelum Akhirnya Ditembak Mati.
  • Pistol Glock 17 untuk Tembak Mati Brigadir J Bukan Milik Bharada E, Tapi Milik Ajudan Istri Ferdy Sambo.

Berita Terkait

Berita Terbaru